Senin, 02 Juli 2012 WIB
|
1259 kali
| Kategori: Media dan Kita

“Bunda, siapa Elfa Secioria?” tanya Irfan, anak bungsu saya, pada suatu malam di awal Januari.
“Itu musisi dan komposer terkenal. Kenapa, Nak?” saya balik bertanya.
“Baru aja ada berita, Elfa meninggal,” jawab Irfan.
Begitulah saya pertama kali mendengar kabar wafatnya Elfa Secioria. Irfan memang sering jadi “pembawa berita pertama” buat saya. Dengan mobilephone yang dapat dibilang selalu di genggamannya dan akses internetnya yang cepat, Irfan terhubung dalam jaringan sosial yang membuatnya mendapatkan kabar-kabar terbaru dengan cepat.
Tidak hanya sebagai “pewarta berita”, kadang Irfan dan kakaknya, Yasmin, terlibat pembicaraan dengan kami, ayah-bundanya, tentang suatu isu (dari mulai subsidi BBM, kemacetan jalan, banjir, ujian nasional, sampai Obama dan Osama). Dalam pembicaraan semacam itu, saya dan suami saya menyadari betul bahwa banyak pendapat yang mereka lontarkan adalah hasil dari “diskusi” yang mereka dapatkan di dunia maya sebelumnya.
Digital natives dan digital immigrants
Anak-anak saya lahir tahun 1990-an. Mereka adalah anak-anak digital, atau yang disebut digital natives. Digital natives merujuk pada generasi internet. Sebagaimana disebutkan oleh Bayne dan Ross (2007), digital natives juga sering dipadankan dengan istilah digital generation, net generation, technological generation, atau millenials.
Siapa persisnya mereka? Palfrey dan Gasser (2008) menyebut mereka adalah yang lahir setelah tahun 1980, yakni di era digital. Mereka ini mengakses teknologi jejaring digital serta memiliki keterampilan dan pengetahuan tentang komputer.
Kalau memang anak kita adalah digital natives, lalu siapakah kita, para orangtuanya? Kita adalah digital immigrants, yakni mereka yang telah mengadopsi dan menggunakan internet dan teknologi terkait, tetapi lahir sebelum kemunculan era digital.
Digital immigrants belajar bagaimana membuat serta menggunakan e-mail dan jejaring sosial. Namun, proses itu semua berlangsung “terlambat” dibandingkan digital natives, yang mengenyam teknologi tersebut sejak masih usia SD, bahkan sejak lahir.
Tentu saja, generasi anak-anak kita berbeda dengan kita. Digital natives belajar, bekerja, menulis, dan berinteraksi dengan orang lain melalui cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Digital natives sangat memahami prosedur penggunaan internet, mulai dari masuk ke browser hingga memproduksi pesan di dalamnya. Mereka ini menjadikan aktivitas berselancar di dunia maya sebagai rutinitas yang hampir setiap saat dilakukan. Dapat dikatakan, generasi ini menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya
Memahami karakter anak digital
Pemahaman mereka yang tumbuh di era digital ini tentang internet menjadikan mereka satu atau beberapa tingkat lebih tinggi jika dibandingkan dengan generasi pendahulunya, digital immigrants, yakni orangtua atau guru mereka.
Namun, bukan berarti pemahaman tersebut lantas membuat mereka terhindar dari hal-hal buruk akibat penggunaan internet. Beberapa penelitian dan pemberitaan menunjukkan, justru generasi inilah yang sering kali terkena dampak negatif internet.
Dengan dasar itulah maka kita, digital immigrants,harus sangat memahami bagaimana sesungguhnya interaksi anak-anak dengan internet. Pemahaman ini dapat membantu anak kita, dalam berbagai tingkat usia, terhindar dari dampak buruk internet.
Salah satu dampak negatif yang paling menonjol akibat penggunaan internet terutama di usia remaja adalah kecanduan atau adiksi. Kecanduan terhadap internet merupakan pangkal segala jenis masalah lain yang timbul akibat penggunaan Internet. Remaja bisa menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan konsentrasi belajar, mengalami gangguan kesehatan, bahkan juga menjadi korban dari kejahatan di dunia maya (cyber crime).
Orangtua dan guru juga sebaiknya memahami bagaimana karakter anak digital. Digital natives lebih memilih untuk membaca blog atau media onlinedaripada suratkabar atau majalah. Mereka juga lebih memilih untuk bertemu orang lain secara onlinesebelum bertemu secara langsung. Interaksi sosial anak-anak ini, termasuk pertemanan dan aktivitas kemasyarakatan, dimediasi oleh teknologi digital.
Digital natives adalah generasi yang mengutamakan kecepatan. Maklumlah, mereka hidup di era internet, di mana komunikasi dapat dengan cepat dilakukan dan informasi sangat cepat tersebar. Akibatnya, mereka cenderung untuk melakukan segala hal dan menginginkan sesuatu dengan cepat.
Generasi digital juga tidak menyukai segala sesuatu yang konvensional dan standar. Mereka senang segala yang baru dan inovatif. Bisa dibayangkan bagaimana jenuhnya anak-anak ini ketika membaca buku teks mereka di sekolah, yang masih memakai pendekatan linear dan konvensional!
Bisa dibayangkan pula, bagaimana anak-anak digital ini―yang terbiasa dengan penyajian internet yang menyenangkan―harus mendengarkan guru mereka di sekolah yang masih menggunakan metode-metode konvensional dalam mengajar. Bagi anak-anak ini, cara mengajar semacam itu sungguh “basi”.
Mereka juga amat menghargai kebebasan, mulai dari kebebasan memilih hingga kebebasan berekspresi. Ini tentu tidak lepas dari “ideologi” internet itu sendiri, sebuah media yang dikenal tidak mengenal batasan. Karena itulah, tak heran jika digital natives nganggap kebebasan sebagai salah satu nilai penting dalam kehidupannya.
Orangtua dan guru masa kini sudah tidak bisa lagi menghindar dari tuntutan untuk memahami media-media baru dengan baik sekaligus memahami bagaimana sesungguhnya interaksi anak generasi digital dengan media-media baru.
Pemahaman bukan hanya diperlukan agar kita tidak menjadi orangtua atau guru yang mendapat label “jadul” atau “gaptek”, tetapi untuk menjadikan kita, si digital immigrants, lebih memahami karakter sang digital natives dan dengan demikian dapat menjalin komunikasi yang lebih baik dengan anak-anak kita. (Nina M. Armando).