Maisun binti Bahdal Al Kalbiyyah: Kemewahan Tak Membawa Kebahagiaan

Minggu, 24 Juni 2012 WIB |
582 kali | Kategori: Jejak


 

Maisun lahir dan besar di perkampungan gurun pasir. Kerasnya kehidupan menempanya menajdi perempuan berpendirian kuat. Muslimah dari suku Kalbi yang fasih dalam perkataan ini mempunyai pemahaman yang baik terhadap Islam, cermin kecintaannya kepada agama dan Rabb-nya.

Kecantikan dan kecerdasan Maisun yang mengemuka dan menjadi perbincangan orang, mendorong Muawiyah bin Abu Sufyan, pemuda Mekah yang kaya dan terpandang, untuk melamar gadis rupawan ini. Maka Maisun pindah dari kehidupan gurun yang sederhana kepada kemewahan, terlebih setelah Muawiyah diangkat menjadi wali negeri Syam (Damaskus) dan kemudian menjadi khalifah kaum Muslimin. Muawiyah bahkan membangun istana di negeri itu. Kehidupan Maisun benar-benar berubah.

Namun, Maisun tidak berubah. Kemewahan tidak menjadikannya goyah pada aturan agama yang ia pahami dan amalkaan dengan sungguh-sungguh. Suatu ketika, Muawiyah membawa pelayan laki-lakinya yang sudah dikebiri masuk ke rumah, sementara Maisun tak berhijab. Buru-buru Maisun menutup dirinya.

Suaminya menjelaskan bahwa pelayan itu tak lagi berhasrat pada wanita. Maisun berkomentar, “Apakah dengan merusak salah satu anggota tubuhnya (mengebiri, Red), bisa menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah (tidak berhijab di depan lelaki yang bukan muhrim, Red)?”

Ilmu dan pemahaman yang amat baik menjadikan Maisun istri yang paling dicintai Muawiyah. Kepadanya lah Muawiyah acap meminta pendapat dalam berbagai urusan. Bahkan kelak, Yazid bin Muawiyah putranya dari Maisun, bukan putra dari istrinya yang lain, ditunjuk untuk menggantikan ayahnya sebagi khalifah.

Tak ada yang tahu, selain dirinya dan Allah, ternyata ia tak bahagia menjalani hidup di tengah kemewahan. Suatu hari, di atas balkon istana dengan pemandangan permai kebun istana terhampar di depannya, Maisun tak dapat lagi menahan diri.

Ia mengingat kampungnya dan berkata, “Rumah buruk yang menerbangkan ruh, lebih kucintai daripada istana megah. Unta yang berjalan pelan, lebih kusukai daripada kuda gagah yang berlari kencang. Pakaian kasar lebih kusukai daripada pakaian lembut dan tipis ini. Roti kering yang yang dulu biasa kumakan lebih kusukai daripada roti yang lembut. Desauan angin lebih kusukai dari tabuhan rebana. Kehidupan keras di kampungku lebih kucintai daripada segala kemewahan istana ini, karena kampungku begitu mulia.”

Muawiyah yang mendengar perkataan istrinya tertunduk sedih. Meski berat, ia menceraikan Maisun untuk kembali hidup bahagia di kampungnya. Selain harta yang diberikan oleh Muawiyah sebagai bekal hidupnya, Maisun pun membawa Yazid untuk dibesarkan di kampungnya.

Maka Maisun hidup bahagia di kampungnya, beribadah sepenuh hati dengan tenang. Muslimah mulia ini wafat pada tahun 80 Hijriyah. (Asmawati)

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter