Tes Psikologi untuk Anak, Bukan Sembarang Tes

Senin, 28 Maret 2011 WIB |
7868 kali | Kategori: Psikologi Keluarga


Tak hanya sekadar mengetahui IQ (Intelligence Quotien) anak, tes psikologi sebenarnya juga ditujukan untuk mengetahui semua aspek dalam diri anak. Tapi, apakah semua anak memerlukan

tes psikologi ini?

 

 

                  Menjelang kelulusan, banyak taman kanak-kanak (TK) yang mengadakan tes psikologi untuk para siswanya. Sebagian sekolah dasar bahkan mensyaratkan adanya hasil tes psikologi saat pendaftaran siswa baru. Selain alasan itu, banyak orangtua yang sebenarnya tak paham perlu atau tidaknya tes psikologi untuk anak mereka. Mereka menganggap anak mereka baik-baik saja dan tak punya masalah berarti yang harus dikonsultasikan pada psikolog.

 

Tak Sembarang Tes

                  Tes psikologi atau psiko tes adalah salah satu cara atau metode untuk mengukur aspek-aspek invidu. “Nah, aspek-aspek ini bisa macam-macam, seperti potensi kecerdasan, kepribadian, kepemimpinan, aspek kognisi, afeksi dan sebagainya,” terang Melly Puspita Sari, psikolog klinis di RSUD Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

                  Pada dasarnya tes psikologi dilakukan bila orangtua atau guru melihat ada masalah pada anak, misalnya saat seorang anak punya perilaku yang sulit di rumah atau saat prestasinya terus merosot. Masalah-masalah ini tentu harus dicari penyebabnya agar kondisi dan perkembangan anak bisa berjalan dengan baik.

Jadi tidak hanya karena mengikuti tren dan melihat orangtua lain melakukan tes psikologi untuk anak, lalu orangtua lainnya ikut-ikutan padahal anaknya tak punya masalah apa-apa. “Kalau ada orangtua datang kepada kami, lalu ingin anaknya dites hanya karena orangtua ingin saja anaknya dites, biasanya kami suruh pulang,” ujar Melly yang mendirikan lembaga NLP (NeuroLinguistics Programming) Inspire di Tanjung Pinang.

                  Kalau saat ini banyak dilakukan tes psikologi untuk anak-anak usia TK yang mau melanjutkan ke sekolah dasar, menurut Melly, itu adalah tes untuk mengukur kemampuan dan kesiapan anak untuk sekolah. Dari tes itu akan terlihat apakah anak sudah memiliki kematangan emosional, kemampuan melakukan interaksi sosial, lalu apakah ia juga sudah mampu mengenali abjad dan sebagainya.

Sementara untuk mengetahui IQ, ibu tiga anak ini menganggap semestinya tak dilakukan di usia dini ini. “Kasihan sekali kalau anak sekecil itu sudah divonis dengan IQ sekian, padahal anak-anak masih terus berkembang. Disarankan tes IQ itu dilakukan saat anak sudah sekolah,” kata lulusan program profesi  psikolog, Universitas Padjadjaran Bandung ini.    

Lalu, kalau memang sudah diketahui IQ anak tidak terlalu tinggi, orangtua pun jangan sampai terlalu patah semangat. “Setiap anak kan punya ‘cahaya’ sendiri-sendiri. Inilah yang harus dioptimalkan. Orangtua yang penuh cinta kasih dengan jendela batinnya akan tahu kebutuhan anak-anaknya. Jadi biar saja kalau misalnya anak tidak optimal di sekolah, tapi bisa jadi ia juara renang, pandai melukis dan sebagainya,” jelas Melly.

                 

Buat Anak Merasa Nyaman

Ketika ada masalah pada anak dan orangtua membawanya ke psikolog, tes psikologi pun tak bisa langsung diberikan. Biasanya psikolog melakukan konseling dulu dengan orangtua sehingga didapat gambaran tentang kondisi anak. Kalau setelah konseling beberapa kali dirasa perlu, maka tes psikologi untuk anak pun bisa dilakukan.

“Sebelum anaknya diproses, kita biasanya mencari tahu dulu apa yang menjadi kegundahan orangtua. Lalu kita minta komitmen mereka untuk berubah, bila memang hasil tes nanti menunjukkan masalah bersumber dari ketidakdekatan antara orangtua dan anak. Kita minta kesiapan orangtua untuk mendukung perubahan pada anak, yang berarti orangtua juga harus berubah,” papar Melly yang juga aktif menulis di media massa ini

 Saat melakukan tes psikologi, anak mesti dalam kondisi yang baik, nyaman dan tidak tertekan. Jangan sampai sebelum tes, orangtua memperingatkan anak bahwa mereka harus menunjukkan perilaku yang baik karena akan dites. Peringatan semacam ini akan membuat anak merasa tertekan dan bisa jadi malah jadi takut kepada psikolog. 

Namun, Melly juga mengingatkan orangtua untuk mempersiapkan anak bangun lebih awal dan sarapan dulu agar mood mereka jadi bagus. Dalam pengukuran IQ bisa jadi tes menunjukkan hasil yang tidak sesuai hanya karena anak menjalaninya dengan mood yang kurang baik.

Suasana juga dibuat senyaman mungkin, bahkan dengan cara bermain. Dengan hanya mengajak bermain dan bercakap-cakap, biasanya psikolog yang berpengalaman sudah tahu apa yang menjadi masalah anak. Tak perlu lagi menggunakan tes yang bersifat formal.

Tes juga bisa dilakukan di sekolah – bekerja sama dengan sebuah biro konsultan – dengan syarat kondisi sekolah juga dibuat senyaman mungkin. Tidak boleh mencontek sana sini karena hasilnya bisa tidak akurat. Respons positif atau negatif yang diberikan anak terhadap tes psikologi ini juga bisa membedakan hasilnya.

Bila dilakukan di sekolah, tes bisa dilakukan secara klasikal (bersama-sama lebih dari satu anak) dan individu (satu anak sendirian). Keduanya tentu baik. “Namun kalau hasil yang didapat ingin lebih optimal memotret anak dari berbagai aspek, tentu saja yang lebih bagus adalah tes secara individu,” saran Melly.  

                  Lama waktu tes tergantung kepada usia anak dan stamina masing-masing anak. Kalau sudah lelah biasanya mereka tidak mau menjalani tes lagi. Maka kadang-kadang perlu disiapkan makanan, minuman dan arena bermain untuk membuat mereka nyaman kembali. Kalau mood-nya sudah baik, bisa kembali mengerjakan tes yang tersisa. Dalam suasana yang nyaman dan mood yang baik, anak-anak tak merasakan 3 sampai 4 jam tes yang mereka jalani. “Fleksibilitas waktu tes untuk anak-anak itu tinggi sekali, bahkan satu tes bisa dijalani hingga beberapa hari,” imbuh wanita kelahiran Palembang, 36 tahun silam ini.

                  Hasil tes ini nantinya tidak selalu berbentuk angka, kebanyakan berupa uraian yang menggambarkan kondisi anak. Orangtua perlu kembali berkonsultasi dengan psikolog untuk mencapai goal setting bagi sang buah hati sesuai hasil tes tersebut. Di situ didiskusikan langkah-langkah apa yang harus orangtua lakukan untuk membuat keadaan anak menjadi lebih baik.

                  Apa pun hasil tes yang didapat, kata Melly, setiap orangtua harus tetap memahami bahwa setiap anak punya karakteristik tertentu. Jadi apa pun kondisi anak, mereka adalah mutiara yang harus terus diasah. “Jika ingin anak menjadi berkilau, maka tugas orangtualah untuk mengasahnya dengan kasih sayang dan cinta kasih yang tiada berbatas,” pungkas Melly.

Asmawati

wawancara: Firda Kurnia

 

BOX

Tes psikologi untuk anak tentu berbeda dengan tes untuk orang dewasa. Untuk orang dewasa, semua soal harus dikerjakan, juga menggunakan kartu bergambar dan lainnya. Sementara untuk anak biasanya dengan meminta anak bercerita atau menggambarkan sesuatu yang sederhana. Cara ini diharapkan bisa memunculkan apa yang menjadi gangguan atau masalah pada anak. Anak pun bisa saja diajak bermain dengan permainan yang sebenarnya diarahkan untuk menggali apa yang ia rasakan. Usia yang memungkinkan anak mengikuti tes psikologi sekitar 4 atau 5 tahun.


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter