Senin, 28 Maret 2011 WIB
|
1329 kali
| Kategori: Mutiara Dakwah

(Bagian Dua)
Mengawal visi perubahan yang ideal sebagaimana yang diarahkan Allah dalam Al-Qur’an, dibutuhkan agen perubahan yang andal. Lalu, seperti apa agen perubahan yang mampu mengawal visi besar tersebut?
Agenda Besar Perubahan
Kondisi apa yang hendak diwujudkan dengan perubahan yang digulirkan oleh para da’i – agen perubahan? Kondisi yang hendak diwujudkan adalah apa yang menjadi misi semua nabi sepanjang zaman, sebagaimana yang disebutkan dalam banyak ayat Qur’an, antara lain, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (QS An-Nahl [16]: 36).
Jadi sebetulnya, agenda besar para nabi hanya satu, yakni menggiring, mengarahkan dan mengajak manusia agar mengabdi kepada Allah swt serta menolak mengabdi kepada sesuatu apa pun selain Allah. Dan itu pulalah yang harus menjadi agenda besar para da’i sebagai agen perubahan. Itu dalam konteks hubungan manusia dengan Allah: pengabdian total dan utuh kepada Allah.
Dalam konteks hubungan umat beriman dengan komunitas lain, kondisi ideal yang ingin dicapai oleh para agen perubahan adalah seperti dijanjikan Allah swt dalam ayat-Nya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS An-Nur [24]: 55).
Apa yang Allah gambarkan dalam ayat di atas itu menjadi visi dakwah kita. Jika kita jabarkan lebih jauh, kondisi ideal yang akan dicapai oleh para agen perubahan adalah:
Pertama, layastakhlifannahum fil-ardhi (Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi).
Kaum Muslimin bukan saja menjadi orang yang merdeka dari penjajahan bangsa manapun. Tapi lebih dari itu, mereka menjadi pemimpin atas manusia dan pengendali peradaban umat manusia. Dan hal itu bukan utopia karena memang telah terbukti dalam sejarah selama lebih kurang tujuh abad. Fakta sejarah itu mengatakan kepada kita bahwa kaum Muslimin, dengan berpegang teguh pada ajaran-ajaran Allah swt adalah pihak yang layak dan punya kekuatan untuk membuat hidup manusia lebih hidup dan menjadikan manusia hidup lebih manusiawi.
Kedua, walayumakkinanna lahum diinahumul-ladzi-rtadha lahum (dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka).
Teguhnya agama adalah manakala Islam menjadi rujukan dalam kehidupan manusia.
Ketiga, walayubaddilannahum min ba’di khoufihim amna (dan Dia benar-benar akan menukar [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa).
Sejarah pula yang membuktikan bahwa rasa aman ini bukan hanya dirasakan oleh kaum Muslimin, tapi juga oleh semua orang yang bernaung dalam kekuasaan Islam. Tidak ada yang dapat menolak fakta sejarah bahwa bukan saja toleransi yang diberikan melainkan pemerintahan Islam di zaman Khalifah Umar Bin Khattab terhadap kalangan minoritas baik Nasrani maupun Yahudi, bahkan memberi mereka perlindungan.
Keempat, ya’buduunanii laa yusyrikuuna bii syaian (Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku).
Pencapaian seperti di atas pastilah memerlukan agen perubahan yang andal. Maka agen perubahan sejatinya adalah:
Pertama, menjadi agen hidayah Allah
Mustahil seseorang dapat menjadi agen perubahan jika dia tidak menjadi agen hidayah Allah swt. Rasulullah saw diutus oleh Allah dengan tugas utama menjadi agen hidayah Allah swt. Seperti tercantum dalam ayat berikut, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS Asy-Syura [42]: 52).
Tentu saja yang dimaksud dengan agen hidayah di sini adalah dalam batas penyampaian (tabligh). Karena kewenangan memasukkan hidayah dalam hati setiap orang adalah di tangan Allah swt semata. Dalam hal itu Rasulullah saw sekalipun tidak punya kekuasaan. Allah swt menegaskan, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS Al-Qashash [28]: 56).
Manusia membutuhkan bimbingan wahyu. Tanpa wahyu, manusia tidak mampu menciptakan rumus kebenaran hakiki. Nabi Ibrahim pun menyadari betapa tanpa hidayah dari Allah, dirinya akan tetap berada dalam kesesatan, sebagaimana yang digambarkan dalam ayat, “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: ’Inilah Tuhanku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat’.” (QS Al-An’am [6]: 77)
Seorang agen perubahan hendaknya berkaca pada Rasulullah saw (lihat: Sang Penebar Hidayah). Kehadirannya harus selalu membuat orang lain menjadi semakin dekat dengan nilai-nilai ilahiyyah, semakin mencintainya, dan semakin kuat dalam berkomitmen kepadanya. Bukan sebaliknya, membuat orang-orang menjadi jauh dari ajaran Islam bahkan membencinya gara-gara perilaku yang mengatasnamakan Islam padahal kenyataannya sama sekali jauh dari ruh Islam.
Dan tidaklah mungkin seseorang menebar hidayah Allah jika dirinya hampa dari hidayah Allah tersebut. Keberhasilan Rasulullah saw menjadi penyampai hidayah Allah tidak lain karena hidayah Allah merasuk ke dalam kalbu beliau saw. “Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan” (QS Asy-Syu’ara [26]: 194).
(Bersambung)
BOX
Sang Penebar Hidayah
Dengan hidayah Allah, Rasulullah saw telah berhasil melakukan perubahan bukan hanya pada wajah Arab tapi wajah dunia. Dalam bahasa Michael Hart, Rasulullah saw adalah manusia paling besar pengaruhnya dalam kehidupan dunia. Selain dari sisi cakupan geografis, pengaruh Nabi Muhammad, dengan hidayahnya, benar-benar mengubah wajah peradaban umat manusia.
Kecintaan Rasulullah saw untuk selalu menebar hidayah dilukiskannya sendiri dalam sabdanya, “Perumpamaan aku (dalam menyelamatkan umat manusia) adalah bagaikan saat seseorang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekelilingnya, mulailah kupu-kupu dan binatang-binatang mengerumuni api dan terjatuh ke dalamnya. Orang itu mengusir binatang-binatang itu (agar menjauh dari api) akan tetapi binatang-binatang itu mengalahkannya dan menerobos masuk ke dalam api. Itulah perumpamaanku dengan kalian. Aku memegang pinggang kalian supaya tidak masuk ke dalam api. Menjauhlah kalian dari api. Menjauhlah kalian dari api. Tapi kalian menerobos dan masuklah ke dalamnya” (HR Muslim).
Begitulah Rasulullah saw dalam menjalankan peran sebagai agen hidayah Allah swt. Bukan hanya dengan kata-kata beliau menyebarkan hidayah Allah melainkan dengan akhlak mulia dan keteladanan yang baik. Betapa banyak orang yang mendapat hidayah Allah disebabkan perilaku Rasulullah saw yang amat terpuji.