Ingin Cepat Menikah, tapi Tak Direstui

Kamis, 31 Desember 2009 WIB |
16369 kali | Kategori: Ya Ummi


Assalamu’alaikum

Ummi yang dicintai Allah, usia saya sekarang menjelang 22 tahun. Alhamdulillah, saya sudah bekerja sebagai PNS. Insya Allah saya sudah siap lahir batin untuk menikah. Calon yang saya pilih sendiri pun sudah ada.

Sudah hampir setengah tahun kami saling mengenal dekat dan merasa cocok. Niat dan tekad kami pun sudah bulat untuk melangkah ke jenjang pernikahan, tinggal menunggu saya memperkenalkannya kepada orangtua saya. Selama itu, saya memang belum banyak bercerita, walau orangtua saya juga sudah mengetahui calon saya ini.

Ketika akhirnya saya memperkenalkannya, ibu mengatakan bahwa ayah tidak ingin saya menikah cepat. Ayah ingin saya berkonsentrasi bekerja dan melanjutkan kuliah dulu. Selama ini memang saya berkomunikasi hanya melalui ibu, karena komunikasi antara saya dan ayah tidak lancar. Kami selalu berbeda pandangan. Semula ibu mendukung saya untuk menikah, namun sekarang ia berubah pikiran dan mendukung ayah.

Banyak alasan yang diungkapkan, seperti perbedaan umur kami yang terlampau jauh (calon saya berumur 29 tahun), kami terlalu cepat melangkah (kami disuruh pacaran dulu), dan profesinya sebagai wiraswasta (bukan PNS). Orangtua saya berpikir hidup saya akan lebih terjamin jika saya menikah dengan sesama PNS. Entah alasan-alasan itu benar demikian adanya atau hanya alasan saja bahwa sesungguhya mereka tidak menyukai calon saya ini.

Saya sudah istikharah dan saya mantap lillahi ta’ala dengan pilihan saya ini. Tapi menurut orangtua saya, itu tidak cukup. Saya sudah sering berbicara pada ibu dan saya tidak berani bicara langsung dengan ayah. Tapi mereka tetap bersikeras dengan keputusan mereka.

Saat ini saya jadi serba salah. Di satu sisi saya tidak ingin jadi anak durhaka, tapi saya juga tidak ingin berlama-lama pacaran dan berbuat maksiat. Tak saya pungkiri bahwa saat kami berduaan, baik di rumah atau pun saat jalan ke luar, kami belum bisa menahan maksiat-maksiat kecil.

Kami sudah terjebak cinta dan perasaan kami sudah sangat mendalam satu sama lain. Kami tidak mau terus-menerus bergelimang dosa. Oleh karena itulah kami ingin segera menikah. Namun apa daya, orangtua saya tidak setuju jika saya menikah sekarang. Apa yang terbaik yang harus saya perbuat tanpa harus menjadi anak durhaka dan berbuat maksiat? Bagaimana hukumnya orangtua yang tidak memberi izin anaknya untuk menikah?

Wassalamu’alaikum

 

Syti, Surabaya

 

 

Jawaban Syariah

Nanda Syti yang Ummi sayangi, Islam sangat menghargai dan menjunjung tinggi nilai hubungan nasab dalam suatu keluarga. Seorang ayah dalam rumah tangga bukan hanya bertanggung jawab dalam rumah tangganya saat itu saja, akan tetapi juga memiliki tanggung jawab pada kelangsungan generasi berikutnya. Maka Islam menjadikan perwalian dalam rumah tangga kepada pihak ayah dan keluarganya, bukan kepada pihak ibu dan keluarganya.

Adanya wali bagi wanita untuk menikahkannya adalah syarat sah pernikahan, sebagaimana sabda Rasulullah saw, Tidak (sah) nikah kecuali dengan wali.” 

Tujuan perwalian ini adalah untuk kemaslahatan dan kebaikan anak gadis dari wali tersebut dan juga untuk wali nikah. Kemaslahatan dan kebaikan untuk anak gadis tersebut adalah dengan memilihkan calon suami yang sekufu’ (setara) dan yang lebih baik untuknya, serta mencegah terjadinya perzinaan. Adapun untuk wali nikah adalah untuk menjalin hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yang lebih baik dan harmonis.

Wali bagi seorang wanita dalam pernikahannya adalah: Ayah kandung; Kakek, atau ayah dari ayah; Saudara (kakak/adik laki-laki) seayah dan seibu; Saudara (kakak/adik laki-laki) seayah saja; Anak laki-laki dari saudara yang seayah dan seibu; Anak laki-laki dari saudara yang seayah saja; Saudara laki-laki ayah (paman); Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu); majikan bagi para budak; Hakim yaitu orang yang berkuasa yang dipercaya.

Wali nikah boleh tidak mau menikahkan anak gadisnya, tetapi harus dengan alasan syar’i yang dibenarkan oleh hukum syari’at. Misalnya saja anak gadis tersebut sudah dilamar orang lain dan lamaran ini belum dibatalkan, atau calon suaminya adalah non muslim atau orang fasik (misalnya pezina, suka minum-minuman yang memabukkan atau suka berbuat maksiat), atau calon suaminya memiliki cacat tubuh yang menghalangi tugasnya sebagai suami dan sebagainya. Jika karena alasan-alasan tersebut di atas, maka anak gadisnya wajib menaati dan kewaliannya tidak dapat dipindahkan kepada pihak lain atau wali hakim.

Jika anak gadisnya tetap memaksakan diri untuk menikah dalam kondisi seperti ini, maka akad nikahnya tidak sah alias batal, meskipun dia dinikahkan oleh wali hakim. Sebab hak kewaliannya sesungguhnya tetap berada di tangan wali perempuan tersebut, tidak berpindah kepada wali hakim. Jadi perempuan itu sama saja dengan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal.

Namun, jika wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i, misalnya calon suaminya orang miskin, berpendidikan rendah, dari keturunan biasa atau orang awam, bukan dari suku yang sama, atau wajah tidak rupawan, dan sebagainya. Ini adalah alasan-alasan yang tidak ada dasarnya dalam pandangan syariah. Maka seorang wali nikah tidak boleh menghalangi pernikahan dengan alasan-alasan tersebut, dan ini disebut dengan wali adhol.  Firman Allah swt, “…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (QS Al-Baqarah: 232)

  Jika seorang gadis telah mendapatkan pasangan yang cocok, setara, baik dan shalih, namun wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya berpindah kepada wali hakim. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw,”…jika mereka (wali) berselisih/bertengkar (tidak mau menikahkan), maka penguasa (as-sulthan) adalah wali bagi orang (perempuan) yang tidak punya wali.”

Nanda Syti yang Ummi sayangi, mungkin orangtua Syti memiliki pertimbangan tertentu atau mungkin juga rencana tertentu. Atau bisa jadi orangtua Nanda ingin mengetahui keseriusan dan kesungguhan calon pilihan Nanda. Cobalah sampaikan keinginan Nanda tersebut langsung kepada ayah Nanda, perkenalkan calon pilihan Nanda dan tunjukkan keseriusan Nanda itu dengan meminta calon pilihan Nanda untuk datang meng-khitbah (melamar) kepada kedua orangtua Nanda. Semoga wujud keseriusan Nanda dan calon pilihan Nanda ini diterima oleh kedua orangtua Nanda.

 

 

Jawaban Psikologi

Nanda Syti yang shalihat, jodoh, sebagaimana rezeki dan usia kita, merupakan hak Allah swt. Karenanya janganlah merasa cemas berlebihan menghadapi persoalan ini dan tetaplah menjaga ibadah Nanda agar Allah swt berkenan memberikan kemudahan-kemudahan kepada Nanda dalam menghadapi problematika saat ini. Beberapa saran Ummi untuk Nanda adalah sebagai berikut:

  1. Setiap orangtua tentu menginginkan kebahagiaan bagi anaknya. Karena itu, berbesar hatilah, meski kadang alasan-alasan yang dikemukakan tidak masuk akal, namun landasan semua keinginan orangtua adalah bagaimana agar anaknya mendapatkan kebahagiaan penuh dengan keputusan yang diambil.

  2. Aspek komunikasi Nanda dengan orangtua, nampaknya menjadi titik krusial untuk segera diperbaiki menghadapi masalah ini. Cobalah untuk mengefektifkan waktu Nanda sedemikian rupa ketika bertemu dengan orangtua untuk menyampaikan pandangan-pandangan Nanda. Pilihlah waktu yang tepat saat orangtua siap untuk mendengarkan. Kemukakan alasan dengan bahasa yang bijak, sehingga meskipun orangtua mungkin merasa benar dengan pendapatnya, namun mudah-mudahan orangtua lama kelamaan akan melihat sudut pandang lain dari pendapat yang Nanda kemukakan.

  3. Menilik usia Nanda yang relatif masih belia dan baru saja mendapatkan pekerjaan, mungkin orangtua berpikir, jika Nanda segera menikah, maka perhatian dan konsentrasi Nanda akan tercurah untuk keluarga baru kelak. Dalam hal ini ada baiknya Nanda memberikan keyakinan pada orangtua (baik melalui perkataaan, sikap yang Nanda tunjukkan, maupun tindakan lain yang lebih konkret), bahwa kasih sayang Nanda pada orangtua dan keluarga tidak akan berkurang dengan adanya pernikahan yang akan Nanda jalani.

  4. Bila komunikasi sedemikian buntu, Nanda dapat pula melibatkan pihak lain yang terpercaya, misalnya sosok dalam keluarga besar yang didengar oleh orangtua, tokoh masyarakat setempat, seperti ustadz/pembimbing pengajian dan lain-lain, untuk ikut urun rembug. Semoga dengan demikian, akan terbuka pandangan-pandangan baru, baik untuk orangtua Nanda maupun untuk diri Nanda sendiri.

  5. Sepanjang belum terikat dengan tali pernikahan, relasi Nanda dengan calon suami tetaplah harus dibatasi. Karena itu hendaklah Nanda pun bersungguh-sungguh untuk menjaga diri dari kemaksiatan kecil yang mungkin terjadi, baik maksiat hati maupun maksiat dalam bentuk lain. Alasan untuk menjadikan saat-saat kedekatan Nanda dengan calon suami sebagai bukti cinta agar orangtua Nanda merasa yakin, bukanlah alasan yang tepat. Selagi belum menjadi suami, dia tetaplah orang lain dengan batasan aturan yang sudah jelas dalam agama, meskipun perasaan Nanda padanya demikian kuat.

  6. Banyak-banyaklah berdoa dan mendekatkan diri kepada-Nya. Bila memang ia jodoh yang baik bagi Nanda, jalannya akan dipermudah. Namun bila tidak, mungkin Allah swt telah memiliki rencana lain, yang tentu mesti kita yakini kebaikannya.

 

 

Jawaban Hukum

Nanda Syti yang dirahmati Allah, dari sisi hukum Negara RI masalah jodoh dan pilihan hidup adalah sepenuhnya masalah privat (perdata). Para pihak yang akan menikahlah yang menentukan sepenuhnya. Maka, komunikasi yang harus dibangun antar pasangan dengan kedua pasang orangtua/ calon mertua dan keluarga kedua belah pihak adalah lebih utama. Di samping shalat istikharah yang sudah semestinya Nanda lakukan.

Undang-Undang Perkawinan tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam hanya menyebutkan bahwa syarat minimal pernikahan adalah usia calon suami minimal adalah 19 tahun dan usia calon istri minimal adalah 16 tahun. Lalu untuk calon mempelai yang belum berusia 21 tahun harus mendapat izin dari orangtua (vide pasal 6 UU No. 1 tahun 1974 dan pasal 15 Kompilasi Hukum Islam).

Kemudian, pasal 16 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa perkawinan didasarkan atas persetujuan calon mempelai. Bentuk persetujuan calon mempelai wanita, dapat berupa pernyataan tegas dan nyata dengan tulisan, lisan atau isyarat tapi dapat juga berupa diam dalam arti selama tidak ada penolakan yang tegas.

Semoga Allah swt memudahkan dan memberikan penyelesaian yang baik atas masalah Nanda ini.

Artikel Lainnya


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter