Senin, 07 Maret 2011 WIB
|
1866 kali
| Kategori: Ya Ummi
Assalamu’alaikum
Ummi, calon suami saya dulu adalah non-Muslim. Sebelum menikah dengan saya, dia masuk Islam. Pada awal pernikahan kami, dia masih mau shalat, tapi lama-kelamaan dia meninggalkan kewajiban itu. Saya tidak menegurnya karena takut terjadi pertengkaran.
Setelah empat tahun menikah, dia masih juga tak mau shalat. Kalau ditanya kenapa, alasannya capek. Puncaknya, dia kembali mengenakan kalung berliontin Budha. Dia bilang untuk keselamatan saja. Saya pun marah dan tanpa pikir panjang langsung meminta cerai tapi dia tidak mau. Dia sudah melepaskan kalung itu walaupun tetap tak shalat.
Saya bilang pada anak saya agar mengajak ayahnya shalat. Ayahnya hanya menjawab nanti saja. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan. Saya sangat mencintainya tapi saya takut hidup yang saya jalani bersamanya ini salah. Apa yang harus saya lakukan, Ummi?
Wassalamu’alaikum
Hani, Subang
Jawaban Syariah
Nanda Hani yang Ummi cintai, sosok calon suami yang ideal dalam agama Islam adalah sosok laki-laki yang baik pemahaman agamanya. Tapi Nanda juga patut bersyukur karena telah dapat menuntun suami Nanda menuju hidayah Allah.
Selanjutnya, tak pernah ada kata terlambat untuk mengajak suami dan keluarga Nanda untuk belajar mengkaji Islam. Cobalah mulai dengan memiliki perpustakaan buku-buku Islami walaupun isinya hanya beberapa buku. Lalu ajaklah seluruh keluarga untuk bersama-sama melaksanakan ibadah shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir dan ibadah-ibadah lainnya. Mendatangkan guru mengaji Al-Qur’an ke rumah untuk mengajarkan Nanda, suami dan anak-anak, mungkin juga cukup efektif. Selain meningkatkan kemampuan mengaji, juga dapat membangun kebersamaan di antara anggota keluarga.
Satu hal yang harus dipertahankan adalah prinsip keimanan Nanda. Bahkan Nanda harus bersikap tegas terhadap masalah keimanan, syukurlah hal ini telah Nanda lakukan ketika suami mengenakan kalung berliontin Budha. Begitu pula dengan masalah-masalah yang lain, Nanda harus berani menyatakan dengan tegas berkaitan keimanan ini kepada suami. Bagaimana caranya? Tentu dengan cara yang hikmah dan dengan pendekatan dan pengajaran yang baik. Antara lain bisa dengan melalui dialog, diskusi dan penyampaian-penyampaian lainnya yang dapat menyentuh hati suami. Bila memang Nanda tidak mampu memberi pengajaran, mintalah bantuan dari ustadz atau ulama.
Jawaban Psikologi
Nanda Hani di Subang, kebiasaan suami yang kembali menjalankan keyakinannya dulu, sebenarnya karena ia belum sepenuhnya memahami Islam, dan belum dapat menginternalisasi nilai-nilainya secara penuh. Akibatnya, ia dengan mudahnya kembali kepada kebiasaan lama yang jelas sudah lebih mengakar.
Berikut ini beberapa saran dari Ummi untuk Nanda lakukan:
- Mulailah menanamkan keindahan ajaran agama Islam kepada suami melalui pendekatan yang penuh kasih sayang. Lakukan hal ini secara konsisten serta rutin. Nanda dapat memulainya dari hal-hal yang sederhana, misalnya mengajak suami berdiskusi tentang persoalan tertentu, dan masukkan cara pandang agama ke dalam perbincangan Nanda berdua sehingga kacamata suami dalam melihat suatu persoalan pun akan berubah.
- Pilihlah tema-tema yang menarik untuk dibicarakan. Tentu sebelumnya Nanda sendiri harus mengasah kemampuan Nanda untuk memahami nilai-nilai Islam secara utuh. Dengan demikian, Nanda dapat menjadi contoh langsung dalam pelaksanaan nilai-nilai agama melalui perilaku yang konkret. Bersikaplah untuk mudah memaafkan, berkata baik dan selalu berpikir positif, ringan tangan dan bersedia membantu, serta perilaku terpuji lainnya yang membuat suami terkesan. Ia pun akan melihat bahwa dengan pemahaman agama yang baik, maka perilaku seseorang pun akan baik pula.
- Ajaklah suami berkunjung ke rumah rekan-rekan Nanda yang memiliki keluarga harmonis dalam rumah tangga mereka dengan kehidupan keislaman yang kokoh. Berikan kesempatan kepada suami untuk berinteraksi langsung dengan mereka sehingga menimbulkan respek tersendiri pada diri suami, dan membangkitkan kesan positif tentang bangunan keluarga Muslim.
- Pemahaman suami yang masih awam mengenai ajaran Islam beserta kewajibannya, seperti shalat, zakat, berpuasa, dan kewajiban lainnya, perlu ditanamkan secara perlahan namun mengena. Setelah ia mengenal kebiasaan tersebut, penting sekali bagi Nanda untuk terus-menerus mengingatkannya dengan cara yang baik agar selalu konsisten melaksanakannya. Sebab, bila rutinitas harian ibadah ini terlepas, satu demi satu kebiasaan lama suami akan kembali mengisi hari-harinya.
- Buah hati Nanda yang sudah mulai beranjak besar dapat dilibatkan untuk menggugah kesadaran ayahnya agar mau menjalankan ajaran Islam secara konsisten. Nanda dapat melibatkannya dalam kegiatan ibadah sehari-hari, seperti shalat berjamaah di rumah, mendorongnya agar mengikuti kegiatan ibadah di masjid, ataupun kegiatan pengajian di rumah. Biasanya ajakan seorang anak akan lebih efektif karena keluar dari nurani yang masih fitri. Meskipun tidak selalu disambut, namun Nanda jangan pernah bosan untuk mengingatkan buah hati Nanda untuk mengajak ayahnya melakukan ibadah. Insya Allah kesulitan dalam melakukan kebaikan akan berbuah kebaikan yang lebih besar di hadapan-Nya.