Senin, 07 Maret 2011 WIB
|
1984 kali
| Kategori: Tamu Kita
Sekarang? Tidak jet lag, kan, Mas?” tanya Ummi setengah tak percaya, permintaan wawancara dengan Goris Mustaqim disetujuinya seketika. Padahal, pemuda yang didaulat sebagai Asia’s Best Young Entrepreneur oleh salah satu media internasional ini baru saja tiba dari Kenya.
Barangkali Anda bertanya, siapa, sih, Goris? Pria asal Garut ini pemilik sekaligus Direktur PT Barapraja Indonesia—dahulu PT Resultan Nusantara. Dia juga tercatat sebagai pendiri dan Presiden Yayasan Asgar Muda serta kepala Lembaga Intermediasi UMKM untuk wilayah Garut.
Sejak kuliah, Goris aktif “meracuni” mahasiswa agar tangguh jadi entrepreneur alias pengusaha. Berkat kegigihannya itu, Goris berkesempatan keliling dunia. Bahkan, bertemu tokoh berpengaruh di dalam dan luar negeri.
Aspirasinya menjadi inspirasi, ia pun mendapat apresiasi. Goris terpilih sebagai 10 Best Indonesian Male in Mc Donald’s Olympic International Youth Camp, Community Entrepreneur Award dari British Council, Presidential Summit on Entrepreneurship yang diselenggarakan Presiden AS Barack Obama, Indonesian Climate Champions (International Youth Delegation) di Copenhagen, Denmark, dan Indonesia’s Most Outstanding Youth Leader dari PPSDMS Nurul Fikri.
Asal Anda tahu, semua prestasi tadi sudah Goris raih di usianya yang terbilang muda, 27 tahun! Luar biasa, kan?
Bukan Keturunan Pengusaha
Lelaki kelahiran 1983 ini memang unik. Ia tak memiliki latar belakang kewirausahaan—kuliahnya di Fakultas Teknik Sipil ITB, sedangkan ayahnya pensiunan PNS. Bagi Goris, semua orang bisa jadi pengusaha. Modalnya cuma menciptakan peluang, passion. Selebihnya, praktik dan skill.
Seingat Goris, tak ada satu wejangan pun dari orangtuanya terkait dunia usaha apalagi membangun karakter tahan banting wirausaha. “Terus terang, aktivitas saya ini tidak didukung orangtua. Maksudnya, dibiarkan saja. Mungkin mereka juga enggak tahu apa yang saya lakukan,” kata bungsu dari lima bersaudara ini sambil tersenyum.
Orangtuanya baru ngeh setelah Goris menerima banyak pengakuan dan penghargaan. “Orangtua menanamkan kepada saya pemahaman agama dan nilai kebaikan. Selebihnya, lingkungan yang membentuk saya berkarakter entrepreneur,” papar Goris yang percaya semua pencapaiannya tak lepas dari doa orangtua.
Ia bersentuhan dengan dunia wirausaha karena keprihatinan dan minimnya informasi tentang wirausaha di negara ini. Sementara, ia punya mimpi besar, melahirkan generasi entrepreneur.
Kalau ditanya kenapa tergerak memotivasi pemuda jadi entrepreneur? Jawabannya singkat, “Panggilan aja.”
Siapa sangka, mimpinya itu nyambung dengan pemikiran negara maju. Hal itu baru ia ketahui setelah mengunjungi Cina dan AS. “Ada kesamaan di dua negara itu. Mereka sadar bangsa yang besar berawal dari bangsa yang mampu membangun generasinya berjiwa entrepreneur,” katanya mantap.
Kurikulum pendidikan AS, misalnya, membuat konsep pembangunan karakter pemberani. Di negeri Paman Sam itu tercatat 12% penduduknya pernah membuka perusahaan. Jadi, soal pengusaha muda mengalami bangkrut sudah biasa.
Itulah yang membuat pemuda AS berbeda. Mereka memiliki jiwa pemberani dan inovatif. Bandingkan dengan Indonesia, pertumbuhan wirausaha hanya 2% per tahun. “Kita masih jauh tertinggal,” kata Goris.
Maka, sudah saatnya pemerintah memberi ruang untuk kurikulum kewirausahaan dan pembangunan karakter. Caranya, bangun karakter siswa berani berisiko, buka akses terhadap modal, inkubator pendukung di tiap kampus, dan perbanyak mentor. Sehingga, para pemuda bisa memutuskan, mewujudkan dan mengambil pilihan menjadi pengusaha.
“Dengan wirausaha kita bisa menciptakan peluang, lapangan kerja, daya saing. Perkembangan ekonomi negara dan potensi daerah pun terangkat,” katanya seraya berbagi tips agar calon wirausaha aktif beroganisasi, belajar mengasah kemampuan menganalisis, menjaga kepercayaan, olahraga, dan cari mentor.
Bikin Pekerja Kantoran Kalah Pamor
Mimpinya terwujud saat ia menjabat sekretaris jenderal Keluarga Mahasiswa ITB. Bersama teman-teman, ia membuat program Innovative Entrepreneurship Challenge (IEC) se-Jawa dan Bali. Kegiatannya lomba, training, workshop, studi kasus, dan mendatangkan investor sampai alumnus ITB yang sukses menjadi pengusaha.
Aktivitas IEC makin berkembang, menggandeng banyak institusi bahkan lintas negara. Belakangan, aksi IEC dilirik media televisi yang berminat membuat program reality show tentang entrepreneur muda.
Semangat Goris menumbuhkan jiwa wirausaha tak terbendung. Selepas kuliah, ia rajin roadshow ke kampus se-tanah air dan merilis buku Pemuda Membangun Bangsa dari Desa, berisi pengalaman laskar muda berwirausaha sosial.
Gerakannya berhasil. Generasi muda aktif dan berani menjadi pengusaha makin banyak. Sekarang, wirausaha menjadi pilihan bergengsi ketimbang pekerja kantoran. “Kerja di perusahaan sudah biasa. Saat ini, kita jadi tampak luar biasa kalau sudah berhasil membuka usaha,” ungkap Goris.
Belakangan yang “teracuni” bukan cuma peserta IEC, melainkan dirinya sendiri. “Saya tertarik jadi entrepreneur. Ini seperti passion, panggilan jiwa dan bikin enjoy. Saya tertantang ingin mandiri,” kata juara pertama Mojang Jajaka Bandung 2003 itu.
Manusia hidup untuk membuat legacy, menjadi prinsipnya. Ia tak rela hidupnya hanya mengalir mengikuti arus dan menolak terjebak mainstream cari kerja setelah lulus kuliah. “Kita harus berbuat sesuatu, tidak sekadar ikut-ikutan. Kita harus berbuat lebih baik, bermanfaat dan tentu saja berpahala,” katanya.
Maka, pada 2007, Goris mendirikan PT Resultan Nusantara yang bergerak di bidang teknologi informasi, khususnya Radio Frequency Identification (smart card). Kegunaannya beragam, untuk absensi, akses kontrol, mobile application, kini ia mengembangkan aplikasi perubahan iklim pada telepon seluler.
Sama seperti pebisnis lain, Goris pun pernah jatuh bangun. Saat mengawali usaha, ia pernah “kecolongan” uang hingga Rp150 juta—jumlah yang menurutnya masih tergolong kecil dalam dunia usaha.
Namun itu tak membuat Goris trauma. Sebab, baginya tiap kendala adalah pengalaman berharga. Maka, belajarlah dari pengalaman lalu cepat bangkit. “Saya percaya selalu ada celah untuk menemukan solusi. Kalau bisnis untung terus, mah, bukan usaha namanya,” celoteh Goris dengan logat Sunda yang kental.
Antara Bandung, Jakarta dan Garut
Bangun bangsa dari desa, begitu pendapat Goris. Selepas kuliah, ia pun mengabdi di tanah kelahirannya, Garut. Bersama rekan sekampung halaman, ia membentuk Yayasan Asgar Muda, pada 2007. Tujuannya, membentuk pemuda Garut berkarakter, pelopor perubahan dan pembangunan. Yayasan nonprofit ini juga bertekad mengembalikan kejayaan Garut yang kaya akar wangi, melalui teknik penyulingan modern. Demi mewujudkan itu, ia rela bolak-balik Bandung-Jakarta-Garut.
“Kami beri motivasi, arahan dan peluang bagi pemuda. Kelak mereka menjadi pribadi bermanfaat, berkarier, dan berkarya untuk daerahnya,” harap Goris.
Faktanya, orang terbaik di daerah memilih berkarir di luar kampung halaman. Alhasil, pembangunan negara tak merata. Padahal, masa depan bangsa berawal dari keberhasilan pembangunan di tiap daerahnya.
Seperti Garut, kaya sumber daya alam. Ironisnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Garut menduduki posisi keempat terendah se-Jawa Barat pada 2005-2006. “Prestasi Garut masih underexpected—di bawah potensi yang sebenarnya,” aku Goris.
Ia sadar Asgar Muda hanya satu dari sekian upaya membangun Garut. Tapi ia percaya aktivitas ini mampu memberi multiplier effect, tak mustahil mewarnai kebijakan pemerintah.
Benar, bermodal jejaring luas dan sarat pengalaman, yayasan ini cepat melejit. Kini, tercatat lebih dari 500 pemuda asli Garut berbagai latar belakang bergabung di Asgar Muda.
Di awal kemunculannya, Asgar Muda melakukan kegiatan sosial super camp bagi siswa SMA. Kemudian, kegiatannya makin variatif dan memberi banyak keuntungan. Misalnya, pembinaan UKM kreatif, lembaga keuangan syariah, membangun pusat belajar masyarakat, beasiswa bagi siswa Garut berprestasi. Nah, keuntungan yang diperoleh mereka investasikan untuk mendirikan unit usaha. Lambat laun yayasan ini berkembang menjadi social enterprise.
Aksi Asgar Muda diam-diam mencuri perhatian pemerintah pusat, seperti Kementerian Pemuda dan Olahraga, Departemen Perindustrian, Perekonomian, tak terkecuali stake holder. Alhasil, bantuan mengalir baik dana maupun pelatihan. Belakangan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta Goris “meracuni” pemuda se-Jawa Barat agar terinspirasi melakukan program serupa.
Ya, Goris sedang meniti mimpinya, seperti yang ia tulis dalam jejaring sosialnya, “I try to lead a life of example, so that one day people will talk about me and say, 'That is Goris, he was truly something!'"
Ratna Kartika
Biodata
Nama : Goris Mustaqim
Tanggal Lahir : 14 Maret 1983
Alamat : Garut Learning Centre, Jalan Muhammadiyah No 48, Garut, Jawa Barat
Hobi : Membaca, olahraga, wisata kuliner, traveling
Pekerjaan : - Direktur PT Barapraja Indonesia
- Presiden Yayasan Asgar Muda