Senin, 07 Maret 2011 WIB
|
1551 kali
| Kategori: Kolom Ayah
Sebagai suami yang bekerja di luar kota, memang tidak memungkinkan bagi saya untuk berinteraksi dengan istri dan anak setiap hari. Maka, saat kepulangan dua pekan sekali menjadi hari-hari yang sangat menyenangkan bagi saya.
Hal yang menarik dan selalu membuat saya rindu dengan anak adalah saat mengajak Umar, anak lelaki pertama saya (usianya 2 tahun 7 bulan), shalat. Setiap pulang saya selalu mengusahakan mengajaknya shalat di masjid begitu azan terdengar. Saya pun membuatkan sarung kecil untuknya karena ia sering meminta memakai sarung seperti yang saya kenakan, yang tentu saja ukurannya sangat besar untuknya. Tiap hendak ke masjid, ia selalu menanyakan sarung yang saya buatkan dari kain seadanya itu.
Pengalaman kurang enak pernah saya rasakan ketika Umar belum bisa pipis dan pup sendiri. Dua kali dia pipis di masjid. Sempat terlintas untuk marah karena ulahnya itu tapi saya segera tersadar, dia hanyalah anak kecil yang belum bisa menyampaikan keinginannya. Sekarang, alhamdulillah, Umar sudah bisa mengatakan hajatnya, saya pun tak lupa mengajaknya pipis sebelum ke masjid.
Ketika saya tak di rumah, ia ternyata sering mengajak ibunya shalat. “Tuh azan, Mi, shalat yuk,” kata istri saya, menirukan perkataan Umar. Pernah, saat akan shalat subuh, istri saya mengatakan, “Kak Umar jadi imam ya, karena Kakak laki-laki, Ummi jadi makmumnya”. Mendengar itu, Umar diam saja, mungkin masih mencerna apa yang disampaikan umminya.
Sajadah pun dihamparkan dan istri saya takbiratul ihram. Tiba-tiba Umar membaca Al-Fatihah dengan lantang dan lancar, meski belum fasih benar. Istri saya terharu. Pikirnya, ini mungkin pengaruh dari kebiasaan saya mengajaknya ke masjid sehingga ia tahu apa yang dilakukan dan dibaca oleh imam saat shalat.
Saya jadi semakin yakin, benarlah masa keemasan anak adalah saat anak usia di bawah lima tahun. Dengan seringnya orangtua memberi contoh dan melakukan kebiasaan yang baik, anak-anak pasti akan mengikuti dan kemudian bisa melakukannya sendiri. Butuh ketelatenan dan kesabaran memang. Namun, mengingat manfaatnya yang begitu besar, setiap orangtua pasti rela berkorban untuk itu.
Setelah mendengar cerita istri saya tentang tingkah Umar yang membuat kagum, saya semakin bersemangat mengajak anak ke masjid. Semoga semakin banyak para ayah yang mengajarkan kegiatan ini pada buah hati, terutama anak lelakinya.