Senin, 07 Maret 2011 WIB
|
3922 kali
| Kategori: Kajian Al Quran
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan,'" (QS Thaahaa [20]: 124 – 126).
Setiap manusia pasti ingin bahagia dan sukses. Sementara pemilik kebahagiaan dan kesuksesan adalah Allah swt. Maka, dapatkah seseorang merengkuh kebahagiaan sejati dengan menjauh dan berpaling dari Allah rabbu'l 'alamin?
Ayat di atas menjelaskan betapa menderitanya kehidupan manusia yang jauh dari dzikrullah (mengingat Allah) dan berpaling dari ajaran-Nya.
Makna Berpaling dari Dzikrullah (Mengingat Allah)
Allah, dalam ayat di atas, mengancam orang-orang yang berpaling dari mengingat-Nya dengan kesengsaraan di dunia dan akhirat.
Berpaling dari dzikrullah memiliki banyak makna. Menurut Imam Ibnu Katsir, maksud ayat tersebut adalah menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Aku turunkan kepada Rasul (utusan)-Ku. Yaitu berpaling darinya, berpura-pura lupa kepadanya dan mengambil selain petunjuk-Nya (Tafsir Ibnu Katsir III/385).
Sementara Sayyid Quthb memaknai 'berpaling dari dzikrullah' dengan memutus hubungan dengan Allah dan rahmat-Nya yang luas (Fii Zhilaal Al Qur'an IV/2355).
Sedangkan Prof Dr Wahbah Az Zuhaili menafsirkannya, berpaling dari agama Allah, berpaling dari membaca kitab Allah dan berpaling dari mengamalkan isi dan kandungan kitab-Nya (At Tafsir Al Munir XVI/298).
Semua makna tersebut tercakup maksud 'berpaling dari dzikrullah'. Termasuk juga, berpaling dan menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya yang terkandung dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Meragukan validitas ajaran Allah dan Rasul-Nya, tidak mengimani universalitas dan integralitas agama Islam dan keberadaannya yang relevan untuk semua zaman dan makaan (tempat), atau mengimani sebagian isi Al-Qur'an dan mengkufuri sebagian yang lain, menentang, melawan dan memerangi orang-orang yang berjuang dan berdakwah untuk tegaknya ajaran Allah dan Rasul-Nya, dan lain-lain.
Semua perbuatan, perilaku dan sikap tersebut dapat masuk dalam kategori 'berpaling dari dzikrullah' dan semua itu membawa pelakunya pada kehidupan yang sempit, nestapa dan sengsara di dunia dan akhirat.
Ancaman bagi Orang yang Berpaling dari Allah
Ada dua ancaman yang ditimpakan kepada manusia yang berpaling dari Allah, sebagaimana diterangkan dalam ayat di atas.
Pertama, penghidupan yang sempit (ma'iisyatan dhankan). Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna dhank (sempit) dalam ayat tersebut.
Menurut Ibnu Abbas ra, maksud 'penghidupan yang sempit' adalah kehidupan yang sengsara.
Beliau juga menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, "Setiap kali Aku (Allah) anugerahkan sesuatu kepada seorang hamba dari hamba-hamba-Ku, sedikit atau banyak, tapi tidak digunakan untuk takwa kepada-Ku, maka tidak akan pernah ada kebaikan di dalamnya dan inilah maksud kesempitan dalam hidup."
Sementara menurut Imam Adh Dhahhaak, Ikrimah dan Malik bin Dinar, yang dimaksud dengan 'penghidupan yang sempit' adalah perbuatan buruk dan rezeki yang busuk.
Sufyan bin Uyainah meriwayatkan pendapat sahabat Abu Sa'id Al Khudri ra tentang tafsir 'penghidupan yang sempit', yaitu kuburnya kelak menjadi sempit sehingga tulang-tulangnya remuk.
Imam Al Bazzaar meriwayatkan dengan sanad lengkap sampai ke Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, tentang firman Allah swt "maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit", bersabda Rasulullah, "Penghidupan yang sempit adalah bahwa Allah menguasakan atasnya 99 ular yang menggerogoti dagingnya hingga hari Kiamat."
Dalam hadits lain dengan sanad jayyid, Nabi saw bersabda tentang makna "maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit", yaitu, ”Azab kubur” (lihat semua pendapat dan riwayat di atas dalam Tafsir Ibnu Katsir III/386).
Perbedaan pendapat tersebut masuk dalam kategori Ikhtilaf Tanawwu' (perbedaan yang variatif), bukan Ikhtilaf Tadhadd (perbedaan yang kontradiktif). Dengan demikian semua pendapat itu relevan dan masuk dalam kandungan makna 'penghidupan yang sempit'.
Kedua, "Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Ada beberapa pendapat tentang maksud 'buta' dalam ayat ini (lihat Tafsir Ibnu Katsir III/386):
Imam Mujahid, Abu Shalih dan As Suddi berpendapat, maksudnya adalah ia dihimpun pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah (argumentasi, ketika diminta pertanggungjawaban).
Menurut Ikrimah, maksudnya ia dibutakan atas segala sesuatu kecuali jahannam. Bisa juga bermakna ia dibutakan dari jalan ke surga dan keselamatan. Kemungkinan lain, maksud ayat tersebut adalah sesungguhnya ia akan dibangkitkan atau digiring ke neraka dalam keadaan buta mata dan hati sebagaimana firman Allah, "Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan peka, tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam" (QS Al-Israa' [17]: 97).
Karena itu ia bertanya keheranan, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (yakni ketika di dunia).
Allah berfirman, "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan." Begitulah ia diperlakukan oleh Allah dengan perlakuan orang yang lupa sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya yang lain, "Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami,” (QS Al-A'raaf [7]: 51).
Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir III/386) mengatakan, "Adapun orang lupa terhadap lafazh Al-Qur'an dengan tetap memahami makna dan mengamalkan kandungannya, maka tidak masuk dalam ancaman khusus ini, meskipun ada ancaman tentang hal ini dari sisi yang lain. Yaitu hadits Nabi saw, "Tidaklah seseorang membaca Al-Qur'an lalu melupakannya kecuali ia akan bertemu Allah di hari pertemuan (hari Kiamat) dalam keadaan berpenyakit ajzam," (HR Ahmad).
Demikianlah ayat ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa seseorang, keluarga atau komunitas apa pun—ormas, partai, lembaga, instansi bahkan bangsa—yang jauh dari Al-Qur'an atau mengenyampingkan ayat-ayat Allah dan tidak mewarnai kehidupannya dengan nilai-nilai Qur'ani, maka sesungguhnya mereka itu 'buta' sebelum nantinya di akhirat benar-benar buta.
Maka, jangan butakan mata hati kita, anak, istri, keluarga besar serta bangsa dan negara kita dengan menjauhkan mereka dan berpaling dari dzikir (mengingat Allah) dan fikir (merenung kebesaran Allah) serta dari ayat-ayat Allah agar kita terjauh dari kehidupan yang 'sempit' dan tidak dihimpun dalam keadaan 'buta'. Wallahu a'lam.