Ketika Tulung Rusuk Menjadi Tulang Punggung
Senin, 07 Juni 2010 WIB
|
4061 kali
| Kategori: Kolom Ayah

Alhamdulillahi rabbil 'alamin pekikku dalam hati. Baru saja aku menyelesaikan ujian akhir pascasarjana. Terlintas dalam benak sebentar lagi aku akan berkumpul dengan istri dan anak-anak yang telah dua tahun kutinggalkan. Bayangan untuk melanjutkan kuliah S3 pun bermain-main di pelupuk mata.
Setiba di rumah kusampaikan rasa syukurku. “Terima kasih Dik, atas semua kesabaran dan ketekunan dalam menjaga anak-anak serta doa yang tulus sehingga Abang bisa menyelesaikan studi tepat pada waktunya,” kataku pada istri. Ungkapan itu sangat layak aku ucapkan karena di kala menempuh studi, aku bukan hanya meninggalkannya tapi juga cuma mampu memberikan setengah gajiku. Untuk menutupi kebutuhan keluarga, istriku menjalankan bisnis rumahan yang keuntungannya tidak seberapa, namun cukup membantu.
Di meja makan kami berbincang. Tak kusia-siakan kesempatan ini. “Dik, Abang ingin melanjutkan studi S3, apa Adik mengizinkan?” Sebelum menjawab, istriku balik bertanya “Kalau studi yang baru Abang selesaikan butuh waktu dua tahun, lalu yang ini berapa tahun lagi, Bang?”
Spontan aku menjawab, “Insya Allah tiga tahun.” Mendengar jawaban itu, istriku hanya senyum tipis lalu mengucapkan kalimat yang hampir tak terdengar olehku, “Yah kalau begitu, tulang rusuk menjadi tulang punggung akan berlanjut lagi. Abang sendirilah yang pikirkan dahulu.” jawab istriku sambil berdiri dan membalikkan badannya.
Menjelang tidur, aku berpikir tentang sindiran istriku tadi. Tulang rusuk menjadi tulang punggung? Tulang rusuk diidentikkan dengan perempuan sebagai pendamping lelaki yang membantu tugas membina rumah tangga. Sedangkan tulang punggung melekat pada laki-laki yang memiliki tanggung jawab menjaga dan menafkahi keluarganya, sesuai dengan yang tercantum di Surah An-Nisa ayat 34. Namun, tak jarang istri menjalankan kedua fungsi tersebut.
Aku tersadar. Aku harus mempertimbangkan ambisiku, dan memulihkan kondisi ekonomi keluarga sebelum menempuh pendidikan selanjutnya. Aku sangat berterima kasih pada istriku, membuatku tersadar untuk tidak zalim terhadap keluarga.
Perubahan niat itu aku sampaikan kepada istri keesokan harinya. Lalu dengan senyum malu-malu ia berkata, “Alhamdulillah akhirnya Abang sudah memutuskan hal yang baik. Bukannya Adik keberatan kalau Abang langsung mengambil S3, tapi itu terlalu cepat bagi kami. Bukan hanya soal ekonomi, tapi rindu kami pun belum terpuaskan.”
Hmm, itulah istriku. Sering menyampaikan maksudnya dengan sindiran halus namun penuh arti. Mungkin kemampuan mengemas perkataan itu adalah sebagian anugerah terindah yang diberikan Allah swt kepada sang ‘tulang rusuk’. Tinggal bagimana kami sang ‘tulang punggung’ memaknainya hingga semua menjadi harmonis.
M. Saleh N. Lubis, S. Pi, M. Si
PNS, Ayah 3 anak
Sulawesi Tengah