Parsial Membawa Sial

Selasa, 04 Mei 2010 WIB |
2625 kali | Kategori: Kajian Al Quran


"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (maksudnya, tidak dengan penuh keyakinan); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (maksudnya, kembali kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata."
(QS Al Hajj [22]: 11)
 
Sebagian ada yang selalu berpikir pragmatis dan oportunis. Mereka memandang kebajikan, dakwah atau amal shalih lainnya dengan “kacamata” untung rugi. Memperlakukan dan menyamakan agama seperti transaksi bisnis. Jika ada ajaran agama yang menguntungkan secara duniawi, maka ia semangat melaksanakannya. Namun, jika logika dagangnya mengatakan rugi secara materi, maka ditinggalkan ajaran itu tanpa beban dan tanpa merasa dosa.
Ia berusaha keras untuk selalu hadir dalam acara-acara keagamaan selama memberikan keuntungan materi kepada dirinya. Bila membawa kepada kerugian duniawi, maka ia pun tidak mau menghadirinya. Ada juga yang hanya mau aktif berdakwah ketika dakwah mendatangkan keuntungan materi, namun jika merugikan, no way katanya.
Fenomena semacam ini ternyata pernah terjadi pada masa turunnya wahyu ilahi, seperti disinggung oleh ayat di atas.
 
Pondasinya adalah akidah
Akidah dalam kehidupan seorang mukmin haruslah menjadi pondasi kokoh yang selalu membuatnya solid dan tegar. Ketika dunia gonjang-ganjing, terpaan ujian kehidupan sangat kencang dan gelombang “tsunami” keras menghantamnya, ia tetap berdiri tegak dan kokoh di atas pondasi itu.
Dalam kajian Sayyid Quthb (lihat, Fi Zhilal Al Qur'an IV/2412), begitulah (seharusnya) nilai dan harga akidah dalam kehidupan orang beriman. Karenanya, ia harus selalu lurus di atas akidah tersebut, tsiqah (yakin) dengannya dan tidak mengharapkan balasan atasnya. Sebab, akidah itu sendiri adalah balasan (dan anugerah dari Allah) sebagai sandaran hidup yang teramat kokoh.
Di tengah ombak kehidupan yang bahkan tak jarang membuat orang frustrasi sampai bunuh diri, seorang Mukmin, dengan akidahnya, tampil tenang, tidak kalut, dan tetap tegar. Ia pun selalu menjaga hubungannya dengan Allah. Sebab akidahnya mengajarkan, hidup adalah ujian. Bentuk ujian itu berupa kebaikan dan keburukan sebagaimana firman Allah, "Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)..." (QS Al Anbiyaa' [21]: 35).
Nabi saw pun menegaskan, “Sungguh amat menakjubkan urusan orang yang beriman, karena semua urusannya adalah kebaikan semata, dan tak seorang pun yang memiliki hal itu selain orang beriman. Apabila ia memperoleh kegembiraan (nikmat), lalu ia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa keburukan, lalu ia bersabar, maka itu pun kebaikan baginya” (HR Muslim, no. 5138).
Maka, pantaskah untuk menegakkan akidah dan ibadah kita masih pragmatis dan oportunis? Apa pantas kita menimbang akidah dengan neraca untung rugi secara materi? Pantaskah kita menyamakan akidah seperti transaksi jual beli?
Jawabannya adalah, bagi Mukmin hal itu tidak pantas sama sekali. Namun bagi orang munafik semua itu pantas saja.
Karenanya, yang dimaksud dalam ayat di atas, menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah, "Adalah orang munafik, ketika dunianya lagi baik (nan melimpah), ia rajin beribadah. Tetapi, jika dunianya lagi sempit (kekurangan harta dan sebagainya), ia berubah (menjadi malas). Maka, ia tidak beribadah kecuali jika mendatangkan kemaslahatan bagi dunianya. Dan jika ditimpa suatu bencana atau fitnah, ia meninggalkan agamanya dan kembali kepada kekufuran" (Tafsir Ibnu Katsir III/422).
 
Sialnya ibadah yang parsial
Penggunaan lafazh "harf" dalam ayat di atas, berarti tepi gunung. Maksudnya ia masuk ke dalam agama (Islam) dengan berada di tepi, tidak dengan penuh keyakinan. Jika menemukan ada sesuatu (ajaran) yang menyenangkan, maka ia tetap berada di sana. Namun, jika ada yang tidak menyenangkan maka ia pun hengkang darinya (berbalik kepada kekufuran). Lihat, Tafsir Ibnu Katsir III/422.
Allah swt menyamakan keadaan orang-orang munafik seperti orang yang berdiri di tepi gunung tanpa berpijak kepada pegangan yang kokoh; gamang, tidak solid dan berpotensi jatuh ke jurang. Atau seperti orang yang berdiri di tepi barisan tentara; jika menang ia tetap berada di sana, namun jika kalah maka ia sudah siap untuk lari. Begitulah keadaan orang yang ragu, lemah dan parsial dalam beribadah (Lihat: At Tafsir Al Munir, Az Zuhaili, XVII/166).
Tidak sulit menemukan orang yang selalu “cari aman” dalam beragama dewasa ini. Agama dipermainkan dan diposisikan tak lebih seperti komoditas yang bisa dieksploitasi seenaknya untuk menghasilkan keuntungan materi. Ajaran agama dipilah-pilah semaunya; mana yang sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya dijalankan. Namun, jika ada ajaran agama yang bertabrakan dengan kepentingan duniawinya, maka dicampakkan.
Agama disekat-sekat semaunya, sehingga muncullah kesan seakan agama hanya mengurusi ibadah mahdhah semata. Untuk urusan shalat, zakat, puasa dan haji, mereka jelas mengambil dari tuntunan agama. Sementara untuk urusan ekonomi, sosial, politik, pendidikan (termasuk pendidikan anak dan keluarga), mereka tidak pernah mengambil dari tuntunan agama. Dalihnya, agama tidak mengatur urusan-urusan tersebut. Maka, jangan heran bila ada orang yang rajin shalat dan rajin pergi ke Tanah Suci, namun ia tetaplah pengisap dan pengemplang uang rakyat, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan. Model pengamalan agama yang parsial seperti inilah yang akan terus membawa sial dan melahirkan manusia-manusia binal (seperti koruptor dan sebagainya). Naudzubillah.
Kenapa ibadah dimaknai secara parsial begitu, padahal Allah telah menegaskan bahwa seluruh kehidupan ini adalah ibadah. Firman-Nya, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (mengabdi) kepada-Ku" (QS Adz Dzariyaat [51]: 56).
Ibnu Abbas ra ketika menafsirkan ayat ini, seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bercerita, "Dahulu ada seseorang yang datang (dan singgah) di Madinah. Apabila istrinya melahirkan bayi laki-laki dan kudanya beranak pinak, dia berkomentar, ‘Agama ini (maksudnya, Islam) agama yang bagus.’ Namun, apabila istrinya tidak bisa melahirkan dan kudanya tidak beranak (tidak berkembang biak), ia pun berkomentar, ‘Ini adalah agama yang buruk.’" (Tafsir Ibnu Katsir III/422).
Dalam riwayat lain, diceritakan, dahulu ada sekelompok orang badui (dusun) menemui Nabi saw dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ketika mereka kembali ke kampung halamannya, jika mereka mendapatkan cuaca kondusif; hujan turun, tanah subur dan anugerah melimpah, mereka mengatakan bahwa ini adalah agama yang bagus dan mereka berpegang teguh dengannnya. Namun, jika mereka menemui iklim tidak bersahabat; kering, tanah tandus dan kekuarangan finansial, maka mereka pun berkomentar, tidak ada kebaikan dalam agama ini. Lalu Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat di atas (Tafsir Ibnu Katsir III/422).
Untuk itu, jangan biarkan bangsa kita terus terpasung oleh pemahaman parsial dalam beragama jika kita masih menghendaki negeri ini selamat dari sial (baca: krisis) multimedimensional. Sebab, pemahaman ibadah atau agama yang parsial membawa sial dalam banyak hal. "Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." Demikian Allah menutup ayat di atas.
 
Ahmad Kusyairi Suhail

Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter