Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Motivasi
  4. /
  5. Belajar dari Soichiro Honda, Tidak Sekolah Tinggi bukan Berarti Tidak Bisa Sukses

   Rubrik : Motivasi

Belajar dari Soichiro Honda, Tidak Sekolah Tinggi bukan Berarti Tidak Bisa Sukses

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 831 Kali

Belajar dari Soichiro Honda, Tidak Sekolah Tinggi bukan Berarti Tidak Bisa Sukses
belajar-dari-soichiro-honda-tidak-sekolah-tinggi-bukan-berarti-tidak-bisa-sukses
Kita mungkin sangat mengenal Honda. Ya, salah satu merk mobil dan motor terkenal di dunia saat ini. Namun, pernahkah kita menyangka bahwa pendiri Honda adalah seorang mahasiswa yang pernah dikeluarkan dari tempat kuliahnya. Kebanyakan dari kita pasti akan berpikir bahwa bila seorang mahasiswa dikeluarkan dari tempat kuliah, maka ia tidak akan jadi apa-apa, dan masa depannya akan suram. Kita tak bisa menyalahkan, karena memang ada yang seperti itu. Namun kita juga tidak bisa membenarkan begitu saja, karena pada kenyataannya Soichiro Honda tidak seperti itu.

Sejak kecil, Honda memiliki minat yang besar pada dunia otomotif, namun bukan berarti dia adalah anak paling cerdas di sekolah. Honda memiliki prestasi yang biasa-biasa saja, bahkan salah satu sumber menyebutkan bahwa Honda tak pernah duduk di depan selama ia bersekolah.

Honda sempat kuliah untuk mendalami mesin, namun ia dikeluarkan oleh pihak kampus karena jarang masuk. Honda sendiri ingin mencari ilmu dan tidak hanya mencari gelar apalagi surat tanda kelulusan. Bagi Honda, menjalankan segala sesuatu harus dari hati. Ia mencintai dunia otomotif dan tak hanya sekadar ingin menjadi insinyur tanpa ilmu.

Honda berasal dari keluarga yang sangat miskin, dan berada di desar terpencil yang ada di Jepang. Semangatnyalah yang memompa dia untuk yakin bahwa suatu ketika, ia bisa memeluk dan berjabat erat dengan mimpi-mimpinya. Kemiskinan bukanlah halangan bagi seseorang untuk terus maju dan maju. Karena siapapun bisa meraih mimpi bila ia sungguh-sungguh.

Honda meraih mimpinya tanpa fasilitas. Ia pun tak punya gelar. Jatuh bangun sudah biasa. Yang ia miliki adalah rasa cinta yang mendalam terhadap dunia otomotif. Rasa cinta itulah yang menjadikan dia secara total mengabdikan dirinya untuk dunia otomotif. Dia tak peduli dengan kegagalan, karena bagi dia kegagalan adalah sebuah pembelajaran. Ia cinta dengan dunianya sampai kapanpun.

Hasilnya, meskipun Soichiro Honda sudah meninggal, namun namaya diagung-agungkan di seluruh dunia. Ia adalah inspirator bagi mereka yang memiliki mimpi. Sekarang kita bisa melihat, bagaimana Honda yang namanya diabadikan menjadi sebuah merk motor dan mobil itu bisa dengan mudah kita jumpai. Semua berawal dari mimpi dan rasa cinta.

Referensi:

Ariefiansyah, Miyosi dan Ryan Ariefiansyah. 2011. “Strategi Gila Menjadi Manajer Nomor 1”. Jakarta: Laskar Aksara.
 
Penulis:
Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo pemilik www(dot)rumahmiyosi(dot)com adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar.

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});