Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Quran
  4. /
  5. Begini Cara Cek Makanan Halal Atau Tidak, Agar Tubuh Sehat Wal Afiat

   Rubrik : Quran

Begini Cara Cek Makanan Halal Atau Tidak, Agar Tubuh Sehat Wal Afiat

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 3237 Kali

Begini Cara Cek Makanan Halal Atau Tidak, Agar Tubuh Sehat Wal Afiat
Begini Cara Cek Makanan Halal Atau Tidak, Agar Tubuh Sehat Wal Afiat

Sahabat Ummi, landasan halal-haram memang wahyu. Tapi ia bukan hanya soal pahala dan dosa, melainkan juga tentang sehat dan tidak sehat.

 

Kaidah fiqih mengatakan bahwa semua sumber makanan asal hukumnya adalah halal, kecuali bila ada dalil yang mengharamkannya. Kriteria keharaman itu sendiri ada dua, yaitu haram karena zatnya (haram lidzati) dan haram karena sebab di luar zatnya (haram lighairihi). Haram karena zatnya bermakna benda itu memang diharamkan oleh Allah swt.

 

Misalnya, darah, daging babi, bangkai, dan sebagainya. Seperti firman Allah swt, Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah,” (QS Al-Baqarah [2]: 173).

 

Sedangkan haram karena sebab di luar zatnya berarti zat itu mengandung mudharat bagi manusia, atau ia halal tapi didapatkan atau dikonsumsi dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Seperti kata pimpinan lembaga pendidikan Islam Al-Qudwah, Amang Syafruddin Lc. M.Psi, “Walaupun zatnya halal, tapi caranya tidak dibenarkan, dari hasil mencuri atau merampok, itu hanya halal sekadar zatnya, namun ia menjadi haram karena cara memperolehnya tidak benar.”

 

Halal dan Baik

Lalu bagaimana pengaruh makanan halal pada kesehatan manusia? “Pada dasarnya,” ulas dr Agus Rahmadi, praktisi pengobatan holistik dan pendiri Klinik Sehat, Jakarta, “kita yakini bahwa semua yang diperintahkan Allah pasti untuk kebaikan ciptaan-Nya.” Maka, menurut Agus, ketika Allah memerintahkan untuk mengonsumsi makanan yang halal dan menjauhi makanan haram, itu juga untuk kebaikan manusia sendiri.

 

“Lalu,” imbuhnya lagi, “kalau kita perhatikan, anjuran mengonsumsi makanan yang halal selalu digandengkan dengan sifat makanan yang baik atau thayyib.” Agus merujuk pada firman Allah,  “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,” (QS Al-Baqarah [2]: 168).

 

Bisa jadi suatu zat tidak diharamkan, tapi tidak baik. Beberapa makanan halal yang tidak baik, ada yang pada akhirnya oleh para ulama difatwakan haram; dan ada beberapa yang tidak difatwakan haram tapi tetap tidak dianjurkan oleh medis. “Kita lihat tembakau, secara zat tidak diharamkan. Dia menjadi haram karena diolah menjadi rokok yang dampaknya sangat buruk bagi kesehatan, karena itu akhirnya dia diharamkan,” jelas Agus. Untuk contoh kedua, Agus menunjuk pada bahan pengawet dalam makanan kemasan. “Bahan pengawet tidak haram, tapi tidak dianjurkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Agus menguraikan bahwa zat yang tidak baik bisa berlaku umum dan bisa berlaku khusus, tergantung pada kondisi orang tersebut. Bahan pengawet adalah zat tidak baik yang berlaku untuk semua orang, sedangkan gula menjadi tidak baik untuk orang dengan diabetes.

 

Jadi, makanan halal adalah makanan yang baik bagi manusia, namun harus juga menyertai kriteria thayyib, baikthayyib secara umum ataupun khusus. Sedangkan apa yang Allah haramkan secara umum adalah zat yang akan berakibat buruk pada kesehatan manusia.

 

Meraih Afiat

Pakar psikologi Islam sekaligus Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta,Prof Dr Abdul Mujib M.Ag, M.Si, juga menyatakan adanya hubungan erat antara kehalalan dengan kesehatan psikologis. “Kalau dalam teori gizi ada 4 sehat 5 sempurna, bagi Muslim harus ada tambahannya, yaitu afiat.Jadi, 4 sehat 5 sempurna itu thayyib, afiat itu halalnya.”

 

Secara umum, makna afiat adalah perlindungan Allah bagi hamba-Nya dari berbagai macam penyakit dan bencana. Dimensi afiat juga mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Maka, mengonsumsi yang halal adalah upaya untuk memperoleh afiat di dunia dan akhirat.

 

Makanan berfungsi mengantarkan afiat, karena, menurut Mujib, makanan bukan hanya mengandung unsur fisik atau kimiawi, tapi juga ada unsur rohani. Mujib mengaitkannya dengan hadits, Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya, (HR Ibnu Hibban. Shahih menurut Syaikh Al Albani). “Neraka , kan, panas. Panas itu akan mengakibatkan berbagai perilaku yang tidak baik,” jelasnya. Neraka yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan cuma konsekuensi masa depan, tapi akibat dari panas neraka itu bisa langsung terasa di duniaBaik berupa emosi yang tidak stabil, impulsif, atau yang lain.

 

Sebaliknya, makanan halal akan membuat seseorang berperilaku positif. “Kalau Rasul bilang bahwa orang yang makan makanan haram akan malas beribadah dan tobatnya tidak diterima selama 40 hari, maka dari kacamata psikologis artinya orang yang makan makanan haram itu orang yang tidak produktif. Makanan halal akan membuat seseorang lebih produktif dan berkah,” papar Ketua Asosiasi Psikologi Islam ini.

 

Apa yang dijabarkan Mujib selaras dengan yang diajarkan para ulama klasik. Dalam sebuah riwayat, Imam Ahmad pernah ditanya, apa yang harus dilakukan agar hati mudah menerima kesabaran? Beliau menjawab, “Dengan memakan makanan halal,” (Thabaqat Al Hanabilah). Di tempat lain,  At Tustari, seorang mufassir, juga mengatakan, “Barang siapa ingin disingkapkan tanda-tanda orang yang jujur (shiddiqun), hendaknya tidak makan kecuali yang halal dan mengamalkan sunah,” (Ar Risalah Al Mustarsyidin).

Didi Muardi

 

 

 

Cara Cek Produk Halal

 

·        Untuk mengecek restoran halal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan cara mudah. Dengan memindai Quick Response Code (QR Code)yang dipajang di gerai-gerai makanan bersertifikat halal, konsumen bisa mengetahui nomor sertifikat, nama outlet, masa berlaku sertifikat halal, dan perusahaan pemilik restoran.

·        Mengecek kehalalan produk kemasan bisa dengan 3 pilihan cara: (1) Buka laman www.halalmui.org lalu gunakan menu search, (2) Unduh aplikasi HALAL MUI di Play Store, dan (3) Cek nomor sertifikat halal MUI via SMS, ketik HALAL (spasi) MEREK, kirim ke 98555.

 

Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 4 06-XXVIII Juni 2016

 Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});