Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Beberapa Ketakutan Istri ketika Tidak Bisa Menghasilkan Uang Sendiri

   Rubrik : Pasutri

Beberapa Ketakutan Istri ketika Tidak Bisa Menghasilkan Uang Sendiri

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 59946 Kali

Beberapa Ketakutan Istri ketika Tidak Bisa Menghasilkan Uang Sendiri
Beberapa Ketakutan Istri ketika Tidak Bisa Menghasilkan Uang Sendiri

“Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia,” (Nabi Muhammad SAW.)

 

Istri memang tidak diwajibkan untuk bekerja meski juga tidak dilarang selama pekerjaannya tidak bertentangan dan tentu mendapat izin dari suami. Namun, masalah istri bekerja atau tidak sekarang ini nampaknya berada pada titik klimaks. Banyak pihak yang menuding secara implisit bahwa istri yang tidak bekerja dianggap sebagai sebuah beban. Coba saja hitung jumlah wanita dan laki-laki, lebih besar mana? Bayangkan saja bila semua wanita diberdayagunakan? Tentu akan menghasilkan sesuatu yang positif. Begitulah kata mereka yang pro dengan istri bekerja. Dari sisi sang istri sendiri, banyak yang mungkin tidak percaya diri karena mereka sama sekali tidak bekerja dan menghasilkan karya.

 

Masalah istri bekerja atau tidak bekerja sebenarnya tergantung dari peraturan masing-masing keluarga. Toh setiap keluarga memang memiliki peraturan yang berbeda-beda disesuaikan dengan kondisi yang ada dan dijalani. Ada suami yang tidak mengizinkan istrinya bekerja karena mereka tinggal di lingkungan yang rawan konflik sehingga menurut suami akan lebih baik bila sang istri tidak bekerja hingga mereka ditempatkan pada kondisi dan tempat yang lebih aman. Dan bilapun, sang istri bekerja, mungkin rumah dan internetlah yang dijadikan sebagai jembatan utama dalam mengais rizki. Namun, ada pula suami yang mengizinkan istrinya bekerja karena lingkungan kerja yang aman dan lokasi kerja yang tidak terlalu jauh. Jadi, semuanya memang berbeda dan sudah seharusnya bila tidak disamakan.

 

Adapun banyak istri yang takut ketika mereka tidak bekerja atau tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan memiliki beberapa alasan berikut ini:

 

  1. Tidak memiliki uang “pribadi” yang benar-benar pribadi yang bisa dibelanjakan dengan bebas tanpa harus izin pada suami

 

Ada banyak istri yang beranggapan bahwa mereka harus memiliki uang pribadi yang benar-benar privasi yang tak perlu dikuasai oleh suami. Dan hal tersebut akan bisa terwujud bila mereka bekerja sendiri.

 

  1. Takut tidak dihargai

 

Zaman telah berubah. Istri yang tidak bekerja dianggap oleh masyarakat umum sebagai istri yang tidak mandiri, walau sebenarnya tidak. Untuk itulah banyak istri yang memilih untuk tetap bekerja. Mereka lebih merasa bebas ketika harus menggunakan sejumlah uang. Tak perlu khawatir akan omongan mertua, saudara, ipar, tetangga, atau orang yang lainnya karena para istri menggunakan uang pribadinya dan bukan uang suami.

 

  1. Takut menjadi beban suami

 

Ada istri yang takut menjadi beban suami bila ia tak turut andil dalam bekerja.

 

  1. Masalah gengsi dan harga diri

 

Masalah gengsi dan harga diri juga menjadi alasan mengapa istri begitu takut ketika ia tidak bekerja atau menjadi seorang wanita yang mandiri

 

  1. Bosan bila tidak ada kegiatan

 

Sang istri takut akan mati karena bosan bila tidak ada kegiatan. Dan salah satu kegiatan yang menurut mereka menguntungkan adalah dengan bekerja. Bekerja, menambah teman dan juga pemasukan.

 

  1. Malu dengan lingkungan sekitar, teman, saudara, dan kerabat lain

 

Hampir sama dengan alasan-alasan pada nomor sebelumnya. Banyak istri yang merasa malu ketika ia tidak bekerja, terlebih bila dulu ia termasuk siswa atau mahasiswa yang berada di atas rata-rata.

 

Beberapa ketakutan di atas memang dialami oleh istri yang tidak bekerja. Sebagai akibatnya, mereka jadi tidak percaya diri. Padahal sikap-sikap pesimis semacam itu harus dibuang jauh-jauh karena bisa meracuni pikiran dan hati. Apapun peran yang dijalani, harus dilihat dari sisi positif. Bila ada pendapat dari orang lain yang mungkin tidak mengenakkan hati atau bahkan menyakiti anggap saja sebagai “selingan”.  Terima dengan ikhlas dan wajar. Orang lain tak akan pernah tahu kondisi yang lainnya seperti apa karena mereka hanya melihat sebentar saja.

 

 

Referensi:

 

Ariefiansyah, Miyosi. 2012. Hartamu Hartaku Hartaku Punya Siapa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Penulis:

 

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo pemilik www(dot)rumahmiyosi(dot)com ini adalah istri, ibu, penulis, dan pembelajar.

 

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});