Mungkin ini hanya fenomena Indonesia saja, entahlah. Tapi keriuhan Lebaran dengan segala ribut, repot dan ruwetnya mudik memang sudah jadi trademark Indonesia. Berbondong orang kembali ke kampung halaman. Meski tahu pastilah macet, pastilah padat, pastilah melelahkan, dan pastilah makan biaya yang tak sedikit jumlahnya, berjuta orang tumplek blek mencari segala cara untuk tiba di kampung halaman.
Kembali ke kampung halaman di masa Idul Fitri memang bukan sekadar kegiatan menjejakkan kembali diri ini di tanah kelahiran, karena toh banyak juga yang tak lahir di kampung sana. Ini bukan pula sekadar upaya untuk tetap connect dengan orangtua atau kerabat, karena kalau hanya itu telepon dan SMS sudah menjadi sarana komunikasi umum yang bisa menyambung rasa dan kata setiap saat.
Pulang kampung pun bisa dilakukan kapan saja, barangkali malah lebih enak bila dilakoni di luar waktu Lebaran, saat segala harga termasuk tiket tak sedang membumbung tinggi, juga lebih kecil peluang terkena macet total di tengah jalan. Tetapi siapa akan ditemui bila sanak famili justru tengah berpencaran mencari rezeki di segenap pelosok negeri?
Maka mudik memang unik. Mudik adalah jalinan silaturrahim nasional yang efektif dan efisien. Sekolah libur. Perkantoran dan toko tutup. Bahkan kegiatan macam mengolah sawah ladang pun untuk sementara dihentikan. Inilah masa di mana secara bersama-sama, serentak, segenap keluarga, kerabat dan handai taulan bertemu muka, berbagi bahagia dan menghadirkan semangat keikhlasan. Ikhlas meminta maaf, dan sekaligus ikhlas memaafkan.
Ketika Idul Fitri yang diterjemahkan sebagai kembali bersih, suci dan fitrah laksana terlahir kembali, seusai semua dosa diluruhkan melalui kesungguhan ibadah Ramadhan, maka meminta keridhaan atas segala salah dan khilaf pada sesama menjadi poin pelengkap.
Tak ada sungkan di hati ini untuk bertandang pada siapa pun demi meminta maaf atas segala salah dan khilaf. Bahkan bagi mereka yang terpisah oleh jarak fisik, jarak sosial pun jarak hati, Idul Fitri menjadi jembatan lapang yang mendekatkan. Pun pada masa Idul Fitri ini, hati yang keras karena mengkal dan jengkel menjadi lunak dan siap memberi keridhaan, pemaafan, penerimaan.
Dua hati yang menjadi lapang karena segala penyakit yang menumpuk di segala sudut telah hilang disapu bersih, nyatanya secara ajaib mampu menghadirkan wajah yang berseri ceria. Maka di saat Idul Fitri ini tengoklah betapa aura keramahan, kesantunan, ketundukan, penerimaan dan keikhlasan menguar di segala tempat dan pada setiap diri. Senyum, sapa, salam lebar tertebar pada sesama, kerabat dekat, tetangga jauh, bahkan sekedar pada orang yang ditemui di tengah jalan.
Tak hanya itu, mudik adalah pula sebuah cermin pengingat bagi masyarakat Indonesia akan pentingnya untuk tak melupakan akar dari mana kita berasal. Akar biologis, akar geografis bahkan akar sosiologis. Sejauh-jauhnya kita berjalan, setinggi-tingginya keberhasilan, seluas-luasnya pertemanan, mudik mengembalikan diri kita pada kenyataan bahwa kita adalah anak dari para orangtua dan kerabat yang membesarkan diri kita dengan doa dan cinta mereka.
Mudik adalah pula jawaban kerinduan kita pada suatu tempat yang menaungi, menerima diri kita apa adanya sebagaimana dahulu pada mulanya kita tak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Mudik juga mengembalikan setiap diri yang sekian lama disibukkan dengan segala ketergesaan pada rehat sejenak, menurunkan ritme kegiatan harian sehingga menjadi lebih rileks dan damai. Dan mudik pulalah yang mengembalikan diri kita pada makna terdalam silaturrahim, menjalin hubungan kekerabatan secara hakiki dengan bertatap muka, bertukar sapa, dan berbagi kebahagiaan.
Mudik memang unik, apalagi kalau kita bisa memaknakannya sebagai saat untuk kembali pada asal muasal kita yang damai dan tak suka tergesa, erat dalam ukhuwah, bersih dari prasangka, mudah memaafkan, banyak senyum dan suka berbagi kebahagiaan. Maka mudik akan mencerahkan jiwa dan raga kita menjadi sesosok pribadi baru, laksana bayi yang baru dilahirkan. Wallahu’alam. Zirlyfera Jamil
Hadits Arba’in Nomor 26, Bagian Kedua
Di antara kandungan ...
Dokter, bagaimana cara mengatasi kuku jempol kaki saya yang selalu tumbuh ...
oleh Ahmad Kusyairi Suhail
"..Dan pergaulilah istri-istri dengan baik ...
Assalamualaikum
Dok, bagaimana cara menghilangkan kantung di bawah mata yang menghitam? ...
Dulu tak banyak orang yang tahu apa manfaat dari mengonsumsi serat. Tetapi kini, serat menjadi ...
Assalamualaikum, Dok, apa sih ciri-ciri awal terserang kanker kulit? Apakah ini ...





Pengunjung hari ini : 143
Total pengunjung : 61962
Hits hari ini : 373
Total Hits : 216149
Pengunjung Online: 10Copyright Ummi-Online.com - 1 Januari 2010 / 14 Muharam 1431 H - All rights reserved