Majalah Ummi Digital - Ummi: Identitas Wanita Islami

Kamis, 01 April 2010 - 11:29:46 WIB
Goyang RW 3
Edisi : No.9 Tahun XXI | Rubrik: Obrolan | Dibaca: 319 kali

Siapa bilang hanya orang kota yang peduli—atau ketakutan dengan—kenaikan berat badan? Warga Desa Padasugih juga bisa.

Minggu sore itu, selembar kertas fotokopi berisi pengumuman dari Pak RW mulai dirilis dan dipublikasikan, alias diedarkan sendiri oleh Pak RW ke segala penjuru wilayah kedaulatanannya.

Untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat,” demikian woro-woro itu dibuka, “maka diimbau kepada seluruh warga RW 3 agar mengikuti 'Goyang RW 3' yang akan diselenggarakan pada tiap hari Minggu pukul 06.00 WIB. Kegiatan yang sangat penting ini akan dilakukan mulai minggu depan di halaman rumah Pak Sunoto.”

Menurut Pak RW, tidak perlu diskusi panjang atau rapat mengundang warga segala untuk menentukan kandungan edaran RW itu. Cukup dengan mendengar aspirasi Bu RW, keluarlah surat edaran itu.

Dan, agak mengagetkan, ternyata pengumuman itu disambut antusias oleh warga Padasugih, terutama kaum ibu. Lebih khusus lagi Bu Rahmat. Bu Rahmat memang lagi dirundung gelisah. Terngiang terus percakapannya dengan Pak Rahmat, ketika mereka bersantai baca-baca buku di tempat tidur.

Hmm, enak banget ya, tiduran di paha istri sambil baca buku,” kata Pak Rahmat. Spontan saja Bu Rahmat bangkit dan kepala Pak Rahmat jatuh mengetuk kasur. Dilihatnya Bu Rahmat berkelebat keluar kamar sambil menggerutu, “Paha, paha... lengan dibilang paha. Huh.”

Pak Rahmat meminta maaf dan bersumpah bahwa yang ia maksud memang lengan, tapi mulutnya salah menerjemahkan maksud otaknya. Tentu saja Bu Rahmat tak mau terima penjelasan itu dan mulai memikirkan metode untuk membuat lengannya benar-benar seukuran lengan gadis sekolah menengah. Senam, hmm, terdengar lumayan juga untuk membakar kalori.

Ayo, Bu Rahmat, sudah punya seragam buat senam pagi belum buat Minggu nanti?” Bu Hari nongol di pintu. “Saya sudah beli lho.”

Lho memangnya harus pakai seragam?” Bu Rahmat agak kaget.

Eh, maksud saya ya, pakaian olahraga,” terang Bu Hari.

Oh ya, masih ada tuh, Bu Hari. Jadi belum perlu beli lagi.”

Oh ya, Bu Rahmat, omong-omong, kira-kira menunya apa, ya?”

Menu?” Bu Rahmat seperti tidak percaya dengan pendengarannya.

Iya, kan ndak mungkin tho kita olahraga bersama tanpa sarapan bersama?”

Singkat cerita acara senam pagi yang dianggap sebagai olahraga yang cukup untuk menurunkan berat badan itu berlangsung dengan sukses. Artinya, semua menu yang dihidangkan ludes. Bubur kacang ijo campur ketan hitam dengan santan kelapa yang kental, keripik singkong, teh manis, kopi, semua tandas di acara perdana.

Pekan kedua, menunya lebih ramai. Ada bubur ayam, aneka kue dan goreng-gorengan, serta aneka minuman manis dan hangat. Diperkirkan pada minggu-mingu berikutnya menu pascasenamnya akan lebih dahsyat lagi. Namun menurut para peserta senam, menu melimpah itu semata berfungsi untuk menarik warga yang belum paham pentingnya olahraga. Jadi ya, sekadar untuk mencari pengikut bagi kegiatan yang menyehatkan dan mengenyangkan—eh, sorry—menyenangkan itu.

Wah gawat nih, Bu Hari. Gara-gara ikut senam pagi, kayaknya saya jadi lebih doyan makan sekarang.”

He-he, ya enggak apa-apa kan, Bu Hari, doyan makan kan pertanda sehat.”

Iih, Bu Rahmat ini. Pertanda sehat atau pertanda berat badan mau nambah?”

He-he. Tadinya saya juga pikir olahraga buat menurunkan berat badan. Tapi saya baca di koran si Bapak, katanya olahraga itu memang berguna untuk menjaga kesehatan, tapi—nah, ada tapinya, Bu Hari—tapi bukan untuk menurunkan berat badan.”

Oalah, gitu tho? Bener kata koran itu?”

Ya mestinya bener, kan itu hasil penelitian orang-orang pinter.”

Apalagi kalau—ehm—kalau habis olahraga dua porsi sarapan kita habiskan.”

Hmm, Bu Rahmat nyindir, ya?” Bu Hari sedikit tersipu.

Bu Rahmat terseyum sebelum kemudian mengelus lengannya dengan lesu.

Agus Budiman


Buat link artikel ini pada:

Artikel Sebelumnya
0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)