Islam diturunkan untuk memuliakan manusia. Semua perilaku dan tindakan manusia dalam Islam diarahkan menuju kepada kemuliaan itu. Hingga dengan kemuliaan itu manusia bisa membangun peradaban yang agung dan menyebarkan kasih sayang kepada semua makhluk.
Segala aturan dalam Islam mengarahkan pada tercapainya keluhuran dan kemuliaan manusia semata-mata. Itulah karakter Islam al-ittijah ilas-sumuw (orientasi pada ketinggian). Jadi segala aturan Islam bukan dimaksudkan untuk menyulitkan, tidak dalam rangka balas dendam dan tidak memberi ruang bagi hal itu, bukan pula agar manusia merasakan kerangkeng dan kekangan. Allah tidak berkepentingan sama sekali kepada manusia.
Jiwa manusia telah Allah ciptakan dalam keadaan sempurna. Bagaimana sempurnanya jiwa manusia? Kesempurnaan jiwa manusia bukan seperti sempurnanya jiwa malaikat. Para malaikat tidak memiliki kecenderungan-kecenderungan biologis. Mereka juga tidak mempunyai perasaan-perasaan negatif atau buruk seperti buruk sangka, sombong, dengki. Itulah sempurnanya jiwa malaikat. Tapi sempurnanya jiwa manusia adalah seperti yang Allah firmankan, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS Asy-Syams: 7-8)
Jadi jiwa manusia yang sempurna tetap saja adalah jiwa yang mempunyai kecenderungan kepada keburukan dan hal-hal negatif. Lalu, yang disebut manusia sukses adalah yang mampu mengendalikan dan menekan kecenderungan-kecenderungan buruk itu sembari memunculkan kekuasaan kecenderungan yang baik. Pada tataran itulah Islam bekerja. Artinya, Islam mempunyai tujuan untuk mengantarkan manusia pada apa yang menjadi tujuan penciptaannya. Dan itulah manusia yang mulia dan bernilai tinggi.
Karakter al-ittijah ilas-sumuw tercermin pada hal-hal seperti berikut:
Islam mengarahkan manusia pada sikap muraqabatullah
Sangat berbeda dengan aturan manusia, Islam mengarahkan manusia agar memiliki kemampuan mengendalikan diri dari segala keburukan dan kemampuan berinisiatif melakukan hal-hal baik dengan menanamkan keyakinan bahwa Allah memantau dan mengawasi segala aktivitas manusia bahkan yang dilakukan oleh hati atau yang sering disebut dengan muroqabatullah. Dalam Islam ada aturan sanksi. Akan tetapi Islam mengarahkan agar manusia meninggalkan segala perbuatan buruk bukan terutama karena takut dihukum. Melainkan karena merasa diawasi dan dipantau oleh Allah swt.
Perhatikan contoh-contoh ajaran Islam yang menunjukkan hal tersebut yang tertuang dalam ayat-ayat berikut:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS An-Nur; 30)
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah: 110)
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu memercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah: 283)
Jadi Islam senantiasa mendampingkan antara perintah atau larangan dengan pengingatan bahwa Allah senantiasa mengawasi perbuatan manusia, sehingga diharapkan manusia menyelaraskan perilaku dalam kehidupannya dengan apa yang Allah inginkan, dengan dorongan yang datang dari dalam jiwanya sendiri.
Islam membuka selebar-lebarnya pintu taubat dan istighfar
Islam membuka selebar-lebarnya pintu taubat dan istighfar dan mendorong manusia untuk senantiasa melakukannya. Jadi, jika seseorang melakukan kesalahan, tidaklah serta merta dapat divonis bahwa orang itu jahat, tidak akan berbuat baik, dan pasti harus dihukum.
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Furqon: 68-70)
Maka kita menyaksikan dalam sejarah orang yang semula amat busuk dan jahat, pada akhirnya diakui oleh Islam sebagai salah seorang manusia pengisi komunitas generasi terbaik. Itulah Umar bin Khattab yang dulunya seorang paganis, pernah pula membunuh anak perempuannya sendiri, dan melakukan kejahatan lain. Dengan pintu taubat dia telah berbenah diri dan kemudian menuju kepada kemuliaan.
Manusia diarahkan pada akhlak yang tinggi
Ajaran-ajaran Islam secara keseluruhan membentuk manusia agar memiliki mentalitas, akhlak, dan perilaku yang mulia. Artinya, Islam tidak hanya memerintahkan manusia agar menjadi orang shalih sendirian atau menikmati ibadah hanya untuk dirinya. Islam mencetak manusia menjadi agen kasih sayang Allah dan kontributor pembangunan peradaban imani yang memanusiakan manusia. Jadi Islam sangat menolak pemisahan akhlak dari hukum, perundang-undangan, politik, ekonomi dan sebagainya.
Kita lihat beberapa contoh berikut. Dalam keadaan seseorang melakukan kesalahan, Islam tetap membuka peluang taubat dan salah satu bentuk taubat tersebut adalah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Perhatikan firman Allah berikut: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS Al-Maidah: 89)
Dalam perang yang tidak lain medan pembantaian pun, Islam menetapkan akhlak yang harus dipedomani oleh para prajurit. Setiap kali mengutus pasukan, Rasulullah saw selalu berpesan, “Berperanglah dan janganlah kalian korup, janganlah berkhianat, janganlah melakukan mutilasi, dan janganlah membunuh bayi. Dan jika engkau bertemu dengan musuh dari orang musyrik maka serulah mereka kepada salah satu dari tiga pilihan (yakni menerima Islam, membayar jizyah/upeti, dan jika tidak mau keduanya maka pilihannya perang).” (HR Ahmad)
Betapa tidak, terhadap binatang saja Islam memerintahkan umatnya untuk mengasihi dan mengaitkannya dengan surga atau neraka. Ada orang yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing dan ada orang yang masuk neraka gara-gara mengurung kucing. Begitulah reward and punishment dari Allah kepada orang yang memerhatikan atau mengabaikan sebuah jantung yang berdenyut.
Itu semua menunjukkan bahwa segala sendi ajaran Islam itu membentuk manusia menjadi makhluk luhur dan mulia. Dengan begitu manusia menjadi pembangun peradaban yang menyejahterakan.
Dokter, bagaimana cara mengatasi kuku jempol kaki saya yang selalu tumbuh ...
oleh Ahmad Kusyairi Suhail
"..Dan pergaulilah istri-istri dengan baik ...
Hadits Arba’in Nomor 26, Bagian Kedua
Di antara kandungan ...
Dulu tak banyak orang yang tahu apa manfaat dari mengonsumsi serat. Tetapi kini, serat menjadi ...
Dengan segala kelebihannya dibanding anak-anak lain – seperti memiliki ...
Bu, seorang teman saya yang seorang janda telah menikah lagi dengan seorang duda. ...





Pengunjung hari ini : 28
Total pengunjung : 14857
Hits hari ini : 82
Total Hits : 53008
Pengunjung Online: 5Copyright Ummi-Online.com - 1 Januari 2010 / 14 Muharam 1431 H - All rights reserved