Majalah Ummi Digital - Ummi: Identitas Wanita Islami

Kamis, 01 April 2010 - 10:29:43 WIB
Mau dan Layak Ditolong
Edisi : No.9 Tahun XXI | Rubrik: Tafakur | Dibaca: 310 kali

            “Dan saling menolonglah kamu dalam perkara kebajikan dan ketaqwaan...” (QS. Al-Maidah: 2). “Sesungguhnya Allah akan menolong hamba-Nya selama sang hamba tersebut menolong saudaranya” (Al-Hadits).

 

            Dalam konteks tolong-menolong, ada beberapa logika berpikir yang perlu kita mengerti. Pertama, kita makhluk sosial yang memiliki ketergantungan. Tidak seorang pun dapat meraih keinginannya tanpa bantuan orang lain. Maka, meminta tolong adalah perkara wajar dan manusiawi. Kedua, kita makhluk berakal yang punya potensi dahsyat untuk menyelesaikan masalah. Karena itu, meminta tolonglah sebatas hal yang kita tidak bisa selesaikan sendiri. Yaitu hal-hal yang telah kita upayakan penyelesaiannya dengan optimal. Hindari meminta tolong karena kita malas atau mau enaknya sendiri.

Ketiga, kita makhluk berkomunikasi yang diberi-Nya alat komunikasi paling sempurna melalui bahasa lisan, intonasi suara dan bahasa tubuh. Maka, optimalkan itu untuk mengomunikasikan persoalan yang kita tidak mampu hadapi sendiri pada orang lain yang kita anggap mampu menolong. Keempat, kita makhluk perasa yang seyogyanya mudah mengerti kepada siapa seharusnya kita meminta tolong. Jangan sampai salah memilih orang, karena itu bisa berarti kita cuma ‘curhat’ tak berujung.

Dalam praktiknya kita akan menemui bahwa cara berpikir dan bersikap orang berbeda-beda. Ada yang berpikir mudah dan sederhana, ada pula yang berpikir sangat njlimet, termasuk dalam meminta tolong.

Jadilah pribadi dengan kriteria mudah ditolong, yaitu pribadi yang mau dan layak ditolong. Tunjukkan kita mau ditolong dengan jelas mengomunikasikan pertolongan apa yang kita butuhkan. Sampaikan maksud kita dengan cara-cara yang mudah dimengerti oleh orang yang dituju; apakah dengan bahasa lisan, tulisan atau bahasa tubuh. Jangan gunakan bahasa plintat-plintut, muter-muter, yang bikin orang bingung dan malah salah mengerti. Hidup makin kompetitif, waktu kita dan waktu orang lain makin berharga. Jangan buang waktu dengan cara komunikasi yang salah.

Secara psikologis, meminta tolong memang membawa kita pada perasaan malu, rendah diri, kecil hati bahkan ada yang merasa terhina karena mengira telah merepotkan orang lain. Please, tekan dan minimalisir perasaan-perasaan tersebut ke dasar hati yang paling dalam, tak perlu ditampakkan berlebihan.

Perlihatkan pula kita layak ditolong. Berapa banyak orang yang seharusnya layak ditolong, tidak mendapatkan pertolongan yang dibutuhkannya karena ia tidak pandai menunjukkannya. Bagaimana caranya?

Tunjukkan bahwa pertolongan yang kita butuhkan adalah pertolongan sementara yang berfungsi sebagai upaya penyelamatan saja. Kita meminta tolong dibimbing berjalan, bukan minta digendong dan bergantung selamanya. Ibarat menolong orang tenggelam, kita hanya membawanya ke tepi, memastikannya selamat dan setelah itu ia akan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Tunjukkan juga, pertolongan yang diberikan akan mengubah status kita dari peminta tolong menjadi penolong bagi orang lain di kemudian hari. Karena itu, jika kita meminta bantuan finansial untuk modal usaha, misalnya, buatlah proposal detail tentang modal awal, waktu BEP (break even point, titik impas usaha), nilai keuntungan, prospek di masa depan, dan sebagainya.

Bukan cuma hitungan di atas kertas yang oke, lho. Tapi sesuaikan juga dengan inner beauty. Yakinkan bahwa kita siap bertanggung jawab atas setiap rupiah yang diamanahkan, kita akan bekerja keras, kita akan berhati-hati, kita akan sukses, dan setelah itu kita siap menolong orang lain. Bukankah hakikat zakat itu adalah mengentaskan mustahik menjadi muzakki?

Jika setiap orang menjadi pribadi yang mau ditolong dan layak ditolong, percayalah, tidak ada lagi perasaan terhina saat meminta tolong atau merasa ‘kapok’ memberi pertolongan. Duh, alangkah indahnya kehidupan orang beriman dalam budaya tolong-menolong.

Dwi Septiawati Djafar


Buat link artikel ini pada:

Artikel Sebelumnya
0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)