Majalah Ummi Digital - Ummi: Identitas Wanita Islami

Rabu, 27 Januari 2010 - 10:48:45 WIB
Bosan
Edisi : No.7 Tahun XXI | Rubrik: Obrolan | Dibaca: 388 kali

Lindu, banjir, longsor, dan badai di Indonesia, Filipina, Amerika, dan entah di mana lagi. Liputan di TV tentang bencana itu tidak kalah bertubinya dengan bencana yang sedang diberitakan. Seperti biasa, lagu Ebiet G. Ade jadi semacam soundtrack atau theme song.

“Apa tak tersinggung itu, dengan kalimat di lagu Ebiet 'Mungkin Tuhan mulai bosan/ melihat tingkah kita/yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa...'?” kata Bu Rahmat sambil memencet tombol “off” di televisi tua itu. TV tua peninggalan si empunya rumah itu memang tak ditemani remote controller sebagaimana televisi mutakhir.

“Wah, Nyonya Rahmat tersinggung nih? Ya, dengerinnya harus lengkap dong. Jangan cuma di bait itu aja.”

“Iya sih dan ini memang bukan tentang lagu itu sebenarnya. Cuma membayangkan, coba kalau kita sendiri yang kena musibah, terus tiba-tiba ada yang datang ke kita dan bilang bahwa musibah itu karena dosa kita.”

“Iya, iya, tentu ndak enak rasanya, karena musibah kan bisa menimpa siapa saja. Banyak orang yang kerjanya menumpuk dosa tapi fine-fine saja hidupnya. Malah makmur dan terhormat di mata masyarakat.”

“Oh ya? Siapa tuh, Pak?”

“He-he, ya, adalah. Mau tahu aja.”

“Nah, lebih menjengkelkan lagi, kalau orang yang Bapak sebut itulah yang datang dan menceramahi kita yang tertimpa musibah.”

“Ha-ha, Ibu bisa aja. Emang ada orang seperti itu? Siapa?”

“He-he, ya, adalah. Mau tahu aja.”

“Kalau lihat yang kena bencana itu, rasanya Ibu gemas melihat keadaan kita yang enggak bisa berbuat banyak...” Bu Rahmat melirik suaminya.

Pak Rahmat terdiam, lalu katanya, “Maksud Ibu, kita ndak punya cukup uang untuk membantu mereka?”

Bu Rahmat menghela napas, “Ya, memang tidak harus uang.”

Pak Rahmat merasa ada yang tak beres dengan emosi istrinya kali ini. Beberapa kerabat istrinya itu, tinggal di sekitar wilayah bencana, dan hingga kini belum ada kabar meyakinkan mengenai keadaan mereka. Apa itu sebabnya?

“Lihat itu. Sudah haji berkali-kali tapi masih aja maksain berangkat. Kenapa sih uangnya tak dipakai saja buat bantu tetangga yang kelaparan atau bantu korban bencana? Haji kok tidak punya kepedulian sosial begitu.”

“Ssst, Ibu ini, tenang, Bu. Jangan sewot begitu. Bisa dikeroyok para haji kita nanti.”

“Biarin!”

“Wah, gawat.” Pak Rahmat geleng kepala.

“Bu, siapa tahu mereka sudah mengeluarkan dana habis-habisan untuk membantu, tapi karena takut dibilang riya', mereka diam-diam aja bantunya. Jadi, para orang kaya itu pura-pura tak peduli, padahal diam-diam sudah jatuh miskin karena membantu mereka sejadi-jadinya.”

“Bapak lucu juga,” kata Bu Rahmat datar. Lalu tiba-tiba, sambil menunjuk koran yang sedang Pak Rahmat rapikan, ia membentak, seperti teriakan guru SMP kepada murid nakalnya. “Itu juga, ah, birokrasi bikin lambat saja. Bukannya birokrasi dan birokrat itu dibentuk supaya semua kerja pelayanan rakyat jadi efisien?”

“Tenang, Bu, tenang.”

“Apa susahnya sih, menolong tanpa pamrih?”

 “Eh, gimana tho ini. Karep-mu apa tho, Bu? Lagi ada apa sebenarnya di rumah ini?”

“Ini!” Sambil mengatakan itu, Bu Rahmat ke dapur dan kembali dengan menyangga sebuah benda berat dengan kedua tangannya.”

“Cobek batu?” Pak Rahmat bingung menghubung-hubungkan soal bencana, haji, birokrasi, dan seterusnya yang disebut istrinya barusan, dengan seonggok cobek.

“Betul, ini cobek. Tapi ini bukan batu.”

“What?”

“Ini adonan semen atau beton yang dicat hitam sehingga mirip batu.”

Pak Rahmat tertegun dan tersenyum sendiri. “Soal cobek kok bisa merembet ke mana-mana.”

“Sedih, Ibu beli cobek itu karena kasihan sama yang jual. Ibu pikir dia betul-betul memikul cobek batu. Kalau orang kecil saja sudah tak jujur cari rezekinya, bagaimana dengan orang besar? Pantesan Tuhan bosan, kayak kata Ebiet.”

Seperti tak dengar omelan istrinya, Pak Rahmat mengangkat dan mengamati sekujur cobek batu—eh, semen—itu. “Benar-benar mirip batu, kalau catnya ndak luntur.”

 

 

 

 

 


Buat link artikel ini pada:

Artikel Sebelumnya
0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)