Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Motivasi
  4. /
  5. Apakah Harus Merasakan Dulu Baru Bisa Paham dan Mengerti?

   Rubrik : Motivasi

Apakah Harus Merasakan Dulu Baru Bisa Paham dan Mengerti?

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 1484 Kali

Apakah Harus Merasakan Dulu Baru Bisa Paham dan Mengerti?
Apakah Harus Merasakan Dulu Baru Bisa Paham dan Mengerti?

Sahabat Ummi, apakah seseorang harus merasakan dulu baru bisa paham dan mengerti?

Segerombolan mahasiswa mengobrol dan berdiskusi tentang tugas sebagai ibu rumah tangga yang gitu-gitu aja. Intinya sih hina dan remeh di mata mereka. Suatu saat, ketika mereka menikah, anehnya opini tersebut berubah 180 derajat. Keluhan demi keluhan disertai ancaman tentang riewehnya menjadi ibu rumah tangga disuarakan ke orang-orang sedunia. 

Sekelompok ibu-ibu mengobrol dan mencela salah satu makanan yang ia pesan. Padahal makanan tersebut enak-enak aja, toh mereka tinggal makan. Makanan tersebut juga halal dan bersih. Kalau pun enggak suka sama makanannya, enggak apa-apa, namany orang beda selera kan. Tapi, enggak harus mencela segitunya juga, kan? Sekelompok ibu itu baru kemudian paham tentang arti susahnya cari uang halal setelah mereka merasakannya sendiri karena si suami bangkrut atau terkena PHK. Mereka baru sadar bahwa rasanya begitu sakit ketika apa yang kita hasilkan tidak dihargai orang lain yang notabene cuma tinggal enaknya saja. 

Seorang tua mencela anak tetangga yang sayang dan dekat dengan orang tuanya. Si anak tetangga yang notabene kerja jauh tersebut sering pulang “hanya” untuk menemui kedua orangtuanya. Yang bersangkutan bilang kalau dia enggak akan nangis jejeritan kalau anaknya pergi jauh nanti, ngapain juga ngelakuin hal-hal cemen, begitulah kira-kira. Dan, benar, nyatanya si anak bapak tersebut pergi jaauuhh untuk menimba ilmu. Enggak dinyanaa, baru juga sehari, si bapak mengaku galauuuu luarr biasa karena jauh dari anaknya. #standarganda #kalauakubolehkalaukamugakboleh 

Seorang gadis udah sesumbar bahwa nanti ketika menikah ia tidak akan pernah mau menjadi ibu rumah tangga aja. Cuma mengurus suami dan anak apa kerennya. Fakta kemudian berbicara sebaliknya. Si gadis menikah dan ternyata cuma jadi ibu rumah tangga aja. Bukan masalah ibu rumah tangga atau tidaknya karena semua profesi baik pastinya mulia. Tapiii, ketidakkonsistenanny itu.

Dan, masih banyak lagi.

Apa benar, kita baru bisa merasakan setelah mengalaminya? Pepatah Jawa mengatakan: Jangan merasa bisa, tapi harus bisa merasa. Yang intinya adalah kita seyogyanya memiliki tepo sliro. Kalau toh enggak bisa ngebantu, setidaknya tidak melukai dengan kata-kata yang menyakitkan dan enggak banget. Mengutip kata-kata Dalai Lama, “Jika tidak bisa membantu, jangan menyakiti,”

Semoga kita termasuk orang yang tidak perlu harus merasakannya lebih dahulu untuk bisa berempati dengan tulus :)

 

Aamiin

 

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah (@miyosimiyo) adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar. Blog pribadinya www.rumahmiyosi.com

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});