Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Aku Mencoba Tidak Marah pada Suamiku

   Rubrik : Pasutri

Aku Mencoba Tidak Marah pada Suamiku

  Ditulis Oleh Your Name Dibaca 2289 Kali

Aku Mencoba Tidak Marah pada Suamiku
Aku Mencoba Tidak Marah pada Suamiku

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Ketika dua kalimah syahadat mempersatukan kami dalam pernikahan yang suci dan di malam pertama aku mulai paham dia bukan laki-laki romantis yang aku idamkan, atau laki-laki rapih dengan performance meyakinkan, suamiku ternyata hanya laki-laki biasa dan sangat biasa.  Lalu aku mulai belajar memahami bahwa semua akan berubah perlahan dan berproses, dan perubahan harus dilakukan bersama.  Lalu….aku pun belajar mencintai dan memahami….

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Saat tak banyak kata yang diungkap, bahkan untuk sekedar menggandeng tanganku saat menyebrang, atau memijatku saat kelelahan, atau juga merayuku saat merajuk, aku hanya mencoba mengerti dan mensyukuri bagaimanapun dia teristimewa bagiku.   Walau suku kami berbeda, aku dari suku yang penuh dengan kelembutan dia dari suku yang penuh ketegasan, kembali kuyakinkan diriku keduanya bukanlah penghalang, karena yang mendasari kami bersatu adalah karena satu tujuan “ Membangun keluarga  dakwah” dan mengenali pasangan adalah sebuah metamorfosa yang terus berproses menjadi pernikahan yang lebih dewasa.

Aku mencoba tidak  marah pada suamiku

Saat baru beberapa bulan kami menikah dan penghasilannya jauh dari mencukupi, dengan entengnya dia bagi-bagikan uang untuk kakak-kakaknya yang sudah bersuami tanpa bilang apapun padaku.  Jelas aku keberatan, dan dengan hati-hati aku ungkapkan, tak ada tanggapan kecuali gurauan yang menjadi kebiasaan setiap aku mengungkapkan kata hati, dia menanggapi dengan gurauan yang menjadi ciri khasnya dalam permasalahan dan selanjutnya selalu kurindukan.

Aku mencoba tidak  marah pada suamiku

Aku hanya mencoba memahami ketika dia tidak bilang terlebih dahulu kepadaku saat memberi uang pada ibunya atau membantu keluarga besarnya yang terkadang kebutuhan keluarga inti harus mengalah karenanya, karena aku pikir itulah cara dia berbakti, tidak ingin membebani aku sebagai istri, toh saat dia memberi itupun menjadi amal sholehku juga.

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Saat dia diamanahkan jadi pejabat public tak pernah membawa pulang gaji bulanannya, habis untuk membiayai konsituen dan kegiatan kemasyarakatan, dan aku coba memahami bahwa uang pinjaman untuk membangun rumah sudah jadi jawaban dibawa pulangnya gaji bulanan.  Walau untuk kehidupan sehari-hari akhirnya harus mencari lagi.  Aku sempat iri karena teman-teman lainnya banyak membuat berbagai usaha, persiapan berakhirnya masa jabatan, sedangkan suamiku tidak mempersiapkan apapun kecuali membangun rumah yang dia dambakan setelah duapuluh tahun pernikahan baru kali ini kami memiliki rumah, itupun tanpa berdiskusi atau ada persetujuan dariku, bahkan gambar, bahan dan segala detailnya hanya dia yang mempersiapkan.  Belum lagi suamiku dan teman-temannya sempat didenda lembaga karena dianggap menyelewengkan amanah jabatan, bertambah semakin terpuruknya pemasukan.

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Saat akhirnya tiba masa berakhirnya jabatan tersebut, kendaraan dinas dikembalikan, supir diberhentikan bahkan uang pesangonpun  aku dan anak-anak tidak menikmati, aku coba memahami dan menyesuaikan diri.    Aku melihatnya ada pada masa transisi, sudah tidak punya pengaruh apapun terhadap kebijakan pemerintah, sudah tidak ada lagi penghormatan berlebih dari masyarkat dan keluarganya.  Dan yang lebih parah tidak usaha apapun yang dikerjakan, belum cibiran para konsituen “ Dua periode jadi pejabat public, kok bisa ga punya apa-apa”   Ya Allah… plis deh emang jabatan itu kemarin hanya untuk mengumpulkan kekayaan? Baru aku sadari bahwa saat jadi pejabat semua mendekat, saat tak lagi punya pengaruh semua menjauh dan meninggalkannya.   Bagaimana mungkin aku menyalahkan suami saat hampir seluruh dunia menghakiminya.

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Pada akhirnya suami tidak memiliki pekerjaan, waktunya dihabiskan di rumah.  Aku semakin iba padanya, dia kelihatan rapuh dan lemah.   Lobi kesana kemari, tak ada yang terbuka diajak kerjasama kecuali ada dana, jangankan dana modal pun tak ada.

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Saat akhirnya penghasilan dari pekerjaanku sebagai volinter sejak muda dulu jadi andalan dan Akulah yang menjadi lebih sering keluar dan meninggalkannya, tentu saja penghasilanku tak seberapa untuk menghidupi anak-anak dan kebutuhan rumah tangga.  Badanku sering tidak berdamai dengan keadaan dan rona bersalah sering muncul di wajah suamiku walau tanpa kata sapa dan hiburan.

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Saat dia tidak berdiskusi denganku tentang proyek yang sedang ditanganinya dan membutuhkan tandatanganku sebagai  persetujuan rumah jadi jaminan.   Saat aku tanya detailnya dia terlihat keberatan, akhirnya aku coba memahami bahwa ada dua hal yang suamiku tidak mau diintervensi, pertama tentang bisnisnya, dia ingin “aku hanya percaya padanya bahwa semuanya akan aman-aman saja” yang kedua tentang ibu dan keluarga besarnya dia ingin “ Aku tidak dipusingkan dengan urusan keluarga besarnya, sementara keluarga inti tidak mungkin disia-siakan”   walau tabunganku untuk membangun sekolah akhirnya juga terpakai untuk membantu saudaranya dan beberapa peristiwa lainnya.

Aku mencoba tidak  marah pada suamiku

Saat aku merasa dia tidak adil terhadap keluargaku bahkan aku sempat menyalahkannya ketika ayahku sakit dan masih ada aku ingin menemuinya, tapi tanpa bicara dia tidak memenuhi keinginanku.  Belakangan baru aku tahu karena dia tidak punya uang untuk sekedar memesankan taksi agar aku dan ke lima anaku bisa mengunjungi ayah dan kakek anak-anaknya.   Ada gurat rasa bersalah dan sedih saat kami tidak bisa mengunjunginya ternyata beberapa hari kemudian ayahku meninggal tanpa sempat kutemui hanya karena kami tidak punya dana sama sekali.  Dia bukan orang pendiam namun untuk hal-hal yang sekiranya menyakitiku dia memilih diam.

Aku mencoba tidak  marah pada suamiku

Saat menghadapi berbagai persoalan hanya ditanggapi dengan candaan, sampai akhirnya aku paham begitulah cara dia menghadapi hal-hal serius agar tak terasa hidup dan membebani kehidupannya.    Dia hanya tidak ingin terlihat garang saat membicarakan masa depan anak, atau yang lainnya.

Aku mencoba tidak  marah pada suamiku

Saat dia mengabarkan bahwa rumah kami akan dilelang karena dijaminkan pada bank atas proyek yang dikerjakan bersama temannya.   Shock sesaat sudah pasti, karena rumah satu-satunya harta kami.  Walau juga ada empat anak yang masih harus kami biayai, alhamdulillah satu anak sudah menghasilkan dana sendiri.  Aku mencoba menghadapi dengan realita untuk coba cari solusi, bukankah ketika kita bersabar artinya kita pun ikhtiar sekalipun hasil akhir kita tinggal tawakkal.  Marah dan sedih berkepanjangan hanya akan memperkeruh suasana. 

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Karena aku tahu sesungguhnya dia sudah merasa bersalah, terbukti beberapa waktu sebelum puncak masalah ini datang, tiba-tiba suamiku jatuh sakit yang cukup serius dan menjadikan berat badannya turun drastis, membuatku sedih dan prihatin, dokter pun setuju bahwa suamiku mengalami depresi yang cukup berat sehingga memicu penyakit psikisnya.  Suamiku sudah menebus semua kesalahan dengan penderitaannya dan menurutku tidak selayaknya aku menambah-nambah beban kesedihan itu dengan melihat kerapuhanku.   Aku harus menguatkan dan membantunya mencari solusi atas permasalahannya, kali ini kemudi kapal aku yang mengendalikan agar tetap bisa berjalan seimbang jangan sampai semua penumpang terancam karam.  

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Karena aku pikir begitu banyak yang harus kami syukuri, kalaupun hari ini harta kami harus hilang, esok lusa pasti akan Allah ganti, aku hanya punya satu keyakinan “Allah memberi ujian tidak diluar batas kemampuan hambaNya”.

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Hidup bersamanya adalah anugrah yang Allah berikan padaku yang kusyukuri setiap waktu, menua bersama dalam ladang amal keluarga, melahirkan generasi penerus dalam pergantian dekade, bersyukur dengan kelebihannya, bersabar dengan kekurangannya, saling melengkapi dalam ketidak sempurnaan, adalah kondisi yang harus dibangun dan dipertahankan bersama.

Aku mencoba tidak marah pada suamiku

Karena apa yang tampak itu hanya sesaat, selama tidak keluar dari syariat bukanlah kehidupan yang tamat, kita hanya perlu memperbaiki hasil instropeksi diri, komunikasi, saling memahami, berdamai dengan hal-hal yang bisa kita toleransikan, buat segala sesuatunya dengan mudah dan tidak menyulitkan.  Persoalan-persoalan dalam keluarga hanyalah bunga, penguji daya tahan mental menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks di luar sana.   Karena kita bukan manusia sempurna, kita hanya berusaha mencintai dengan sempurna sesuai kesempurnaan yang kita terjemahkan sendiri.

 

= Syasha 0417 =

 

Lahir di Garut 49th yang lalu, usia pernikahan sudah 25th,dikaruniai lima orang anak, tiga perempuan dan dua laki-laki, berkarir sebagai ibu rumah tangga sekaligus konselor keluarga, anak dan perempuan, juga motivator trainer keluarga jawa barat, konselor rumah keluarga Indonesia dan beberapa lembaga keluarga lainnya.   Saat remaja pernah menulis artikel berjudul “Arti sahabat” di majalah Hai, pernah menulis artikel “Teman Tapi Mesra “ yang dimuat di majalah UMMI pada tahun 2010 dan kali ini mencoba untuk menulis kembali di majalah online. Cita-cita kedepannya ingin menerbitkan Buku hasil karya sendiri. Beralamat di : Perum Cikarang Baru Jl.Kancil 1 blok B no.116, Jababeka 2,Cikarang – Bekasi, Alamat email syasha68@gmail(dot)com, alamat FB: Lusiana R Lacsana, alamat twitter syasha lusiana, Alamat blog : Kemilau Senja

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});