Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Motivasi
  4. /
  5. Agar Terhindar Jadi Tukang Gosip dan Pengeluh

   Rubrik : Motivasi

Agar Terhindar Jadi Tukang Gosip dan Pengeluh

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 13470 Kali

Agar Terhindar Jadi Tukang Gosip dan Pengeluh
Agar Terhindar Jadi Tukang Gosip dan Pengeluh

Sahabat Ummi, mengeluh dan menggosip, dua hal di antara sekian banyak hal yang bisa berakibat fatal dan merugikan banyak pihak. Siapapun dan di lingkungan mana pun bisa terseret ke dalamnya. Anak sekolah, wanita pekerja kantoran, ibu-ibu di kompleks perumahan, siapa saja bisa terserang "virus" ini.

Bagaimana agar sebisa mungkin terhindar darinya sementara kita adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri alias enggak bergaul.

 

1. Niat

Niatkan bahwa tujuan kita sebisa mungkin menghindari dua hal tersebut adalah karena tidak ingin buang-buang waktu percuma dan bukan karena ingin dibilang "paling suci". Bukaann.

Bayangkan saja berapa banyak waktu yang akan terbuang sia-sia jika sehari-hari hanya disibukkan dengan hal-hal kontraproduktif. Belum lagi efek dominonya. Banyak perselisihan besar terjadi bermula dari hal yang dianggap sepele seperti ini.

Siapa yang rugi? Kita sendiri.

Jadi bukan masalah ingin dianggap suci, bening, bersih atau semacamnya. Toh hanya Allah yang berhak menilai. Tapi dalam rangka tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang terbatas di dunia.

 

2. Kerjakan hal-hal positif, sibukkan diri

Pepatah mengatakan jika kita tidak disibukkan dengan hal-hal positif pasti pikiran kita akan dipenuhi hal-hal negatif. Tentu kita enggak mau ya hidup dengan penuh rasa gak enak hanya karena imajinasi negatif yang kita buat sendiri.

"Ih, dia udah beli rumah. Pasti korupsi,"

"Kok aku gak bisa kayak dia sihh. Ya iyalah kalau dia kan ...,"

Nah, kan. Jadi bingung sendiri.

Ada begitu banyak hal positif yang bisa kita lakukan. Tentu sebagai orang dewasa yang mandiri, kita bisa menyesuaikannya dengan keseharian kita.

 

3. Jika memang perlu, bergabunglah di komunitas tertentu yang sesuai dengan passion kita

Walaupun di mana saja rentan ada konflik sekalipun di komunitas yang kita sukai, tapi setidaknya dengan bergabung di sana pikiran kita terhadap hal-hal sefrekuensi jadi lebih terbuka. Misalnya kita hobi jahit, ya ikutlah komunitas menjahit. Atau, yang lain.

 

4. Fokuslah dengan target dan visi misi sendiri

Untuk hal-hal yang sifatnya kemanusiaan, kita wajib peduli. Tapi untuk hal-hal yang sifatnya privasi, sebaiknya kita tidak terlalu kepo untuk kemudian membanding-bandingkan dan menjelekkan jika tidak bisa menyamai atau mengeluh karena tidak bisa mengejar.

Kita fokus saja dengan target sendiri yang sesuai dengan kondisi. Kenapa rempong dengan orang lain?

 

5. Jika ada yang mengajak ghibah, jangan direspon

Menasehati adalah cara terakhir bangett karena sejujurnya hal tsb kadang bisa menyinggung apalagi kalau posisi kita lebih muda. Diam atau senyum alias enggak terlalu ditanggapi bisa jadi alternatif lainnya. "Hehehe" juga bisa dilakukan untuk merespon orang lain yang mengajak kita membicarakan kejelekan orang lain tanpa menyinggung perasaannya. Nanti, ybs akan malu sendiri biasany. 

 

6. Ketika ada yang curhat tentang kekesalannya pada orang lain sebaiknya curhatan tersebut jangan pernah disampaikan pada siapa pun termasuk orang yang bikin kesal

Sebagai makhluk sosial, ada kalanya timbul friksi. A curhat ke B tentang kekesalannya dengan C dengan alasan B ini bisa dipercaya. Tapi ternyata B bilang ke C. Padahal saat B bilang ke C, A sudah berdamai dengan hatinya. C yang enggak terima langsung melabrak A. Pertikaian pun terjadi. Hubungan hancur. Gak bisa seperti dulu lagi. 

Kalimat "seandainya A enggak curhat ke B" atau "seandainya B enggak bilang ke C" atau "seandainya C enggak langsung emosi", yups ... kalimat "seandainya" seperti itu tidak akan berguna lagi

 

7. Masih berkaitan dengan nomor sebelumnya, jangan sembarangan curhat mengenai kekesalan yang tidak permanen. Curhat yang sebenarnya sih memang sama Allah ya, tapi sebagai makhluk yang gak bisa hidup sendiri ada kalanya kita ingin curhat ke teman. Maka, curhatlah dengan tepat jangan gegabah dan mudah memberikan informasi mengenai kondisi hati saat ini kepada orang lain demi perdamaian dunia.

 

Bagaimana, Bun? Yuk, berinteraksi sehat dan nyaman.

Foto ilustrasi: google

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah atau @miyosimiyo adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar. Rumah mayanya ada di www.rumahmiyosi.com

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});