Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Agar Isteri dan Anak-Anak Tak Menjadi Musuh Bagi Suami

   Rubrik : Pasutri

Agar Isteri dan Anak-Anak Tak Menjadi Musuh Bagi Suami

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 16677 Kali

Agar Isteri dan Anak-Anak Tak Menjadi Musuh Bagi Suami
Agar Isteri dan Anak-Anak Tak Menjadi Musuh Bagi Suami

Kutatap satu-satu wajah pulas itu. Wajah-wajah yang menemani hari-hariku enam tahun terakhir ini. Hadirnya mereka adalah episode dari sekian episode yang terus berlanjut dalam kehidupan. Menatapnya, menghadirkan ketenangan. Melihatnya, juga kembali menyadarkan tentang besarnya sebuah amanah.

Kehadiran seorang isteri bagi lelaki yang baru menikah tentulah menjadi anugerah. Bukankah Adam merasa kesepian sebelum hadirnya Hawa ditengah kenikmatan surga yang dirasa. Pun, kehadiran anak bagi pasangan yang telah menikah, juga menjadi harapan. Harapan tentang berlanjutnya siklus kehidupan dengan mewujudnya keturunan. Harapan tentang masa depan anak yang cemerlang. Harapan tentang misi peradaban. Semua menjadi satu dalam kehidupan yang dijalani, kehidupan berumah tangga.

Mencintai meraka adalah ibadah. Mencukupkan keperluan mereka adalah sedekah. Amanah yang musti dijaga, selalu sepanjang masa. Kadang terbesit seketika, “Allah…, sampai kapan ini tetap ada, bilakah perpisahan itu tiba?”

Pernahkan pertanyaan yang sama Anda rasakan? Yang saat ini sedang bersama, bukankah bisa menjadi tiada. Semuanya akan pergi, pada saatnya.

Cobalah tatap pasangan kita dalam lelapnya. Cobalah sesekali meranapi gurat wajah penuh kepolosan anak kita dalam nyenyaknya. Pada mereka ada peluang ibadah yang terbuka lebar. Ibadah diatas ibadah. Teringat akan pesan mulia dari lisan sebaik manusia, “Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim). Terenyuh, bila kita menjadikan Rasul sebagai tauladan, “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Saat menatap mereka, cobalah kemudian mendekat. Usaplah wajah-wajah itu. Isterimu yang tetap setia menemani hari-harimu. Anak-anak dengan semua kepolosan mereka. Lanjutkan dengan muhasabah diri. Sudahkah diri ini menjadi imam terbaik untuk mereka? Bagaimana pertanggungjawabanku kelak di mahkamah-Nya? Adakah kami akan bersama di kehidupan berikutnya, di surga-Nya?

Tidakkah muncul rasa risau ketika tahu bahwa nanti suami bisa menjadi musuh bagi isteri. Isteri menjadi musuh bagi suami. Orangtua menjadi musuh bagi anak-anaknya?

Maka berdoalah dengan doa yang dituntukan, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Meng-azamkan dalam hati, menjadi pribadi terbaik dari hari ke hari. Bertakwa, dekat dengan Sang Pencipta. Harapnya, ketakwaan itu pun menular kepada mereka, orang-orang terkasih. Tidakkah janji ini menjadi menarik, “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Al-Thur: 21)

Maka cukuplah menjadi pengingat, pesan Fauzhil Adhim dalam goresannya, supaya bersama tidak hanya didunia, tapi juga bersama ke surga-Nya, “cintailah anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikitpun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta’ala. Cintai mereka dengan penuh pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk karirnya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang, masa yang tak bertepi.”

Semoga.[]

*Bernama asli Windo Putra Wijaya, Pembina Majelis Taklim Ibu-Ibu (Indonesia) di Malaysia, Mahasiswa S3, Universiti Sains Islam Malaysia.

 Foto ilustrasi : Google

 

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});