Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. 9 Hal yang Bisa Dilakukan Istri saat Suami Dicintai Wanita Lain

   Rubrik : Pasutri

9 Hal yang Bisa Dilakukan Istri saat Suami Dicintai Wanita Lain

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 94283 Kali

9 Hal yang Bisa Dilakukan Istri saat Suami Dicintai Wanita Lain
9-hal-yang-bisa-dilakukan-istri-saat-suami-dicintai-wanita-lain
Sahabat Ummi, diakui atau tidak, sebagai istri yang masih normal rasanya sangat wajar jika merasa geram ketika suami dicintai wanita lain. Lebih-lebih jika wanita lain tersebut tidak peduli atau berdalih dengan kalimat, "Cinta kan tidak bisa dipaksa," atau "emang aku tahu mau suka sama siapa?" atau "salah sendiri gak bisa jaga suami,"

Ehm ... gemes, ya.

Secuek-cueknya suami (dalam artian suami tidak tertarik) atau selogis-logisnya istri (dalam artian istri bukan tipe pencemburu) adalah wajar semisal gerah dengan kekurangajaran atau ketidaktahumaluan pihak ketiga. Apalagi, sekarang ini konon zamannya pelaku kecurangan (dalam hal apapun) tidak mau mengakui kesalahannya, yang ada malah sebaliknya. Makin senewen, deh.

Marah-marah atau ngelabrak apalagi mencari pelampiasan yang salah bukanlah solusi. Yang ada, suasana akan jadi semakin runyam. Diam saja alias tidak peduli atau sok tegar & sok kuat juga hanya akan menyakiti diri sendiri.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?



1. Wait and see

Menunggu dan mengamati dari kejauhan bukan berarti takut atau tidak peduli. Kita hanya berusaha untuk tidak bertindak gegabah. Iya kalau benar, kalau hanya asumsi pribadi gimana? Misal, ternyata yang diperlakukan istimewa seperti itu oleh orang yang kita curigai tidak hanya suami kita, tapi semuaanyaa (semua teman laki-lakinya). It means (walaupun sebenarnya juga tidak etis) karakternya memang sudah seperti itu.

Kalau sebaliknya gimana? Semisal yang diperlakukan berbeda hanya suami kita? Tenang … kita lanjutkan langkah berikutnya.



2. Bersikap baik/akrabi wanita yang mencintai suami kita

Mengakrabi? Lihat wajahnya aja udah adem panas dan dada udah sesak. Di sinilah dibutuhkan kecerdasan emosi, Bun. Dada boleh berdebar, tapi pikiran harus tetap adem, dan kata-kata harus tetap lembut berwibawa dan memesona. Kalau bersikap sebaliknya, yang ada malah mempermalukan diri sendiri. Apalagi kalau kita menunjukkan posisi insecure, biasanya sih pihak “lawan” akan semakin kepedean.

That’s why, tetaplah tenang dan tunjukkan bahwa perasaan dia ke suami kita itu ibarat iklan, enggak ada efek apa-apa. Hanya sekadar numpang lewat saja dan bukan sesuatu yang harus dipikirkan karena tidak penting.

Lalu, apa gunanya bersikap baik? Untuk mengenal lebih jauh dan juga membiarkan dia mengenal kita. Biasanya yang berssangkutan akan sungkan dan mundur dengan sendirinya ketika sudah kenal dekat, dengan asumsi masih punya malu.



3. Jangan memberondong apalagi mencurigai suami berlebihan

Yups, karena bisa saja suami enggak ngeh kalau dia sedang ada yang suka. Mengingatkan dengan lembut untuk berhati-hati sih enggak masalah, tapi kalau sampai mencurigai dengan memberondong pertanyaan bertubi-tubi yang ada malah sebaliknya, dari yang tadinya suami enggak kepikiran menjadi kepikiran lalu kejadian. Na’udzubillah.


4. Tingkatkan service ke suami

Menusia bukanlah robot yang tidak bisa diikat hanya dengan bermodalkan doktrin, paksaan, apalagi ancaman. Jika tetap ngotot seperti itu, yang ada bukan menjalankan kebaikan karena sadar dari hati, tapi karena terpaksa (baik di depan, berbelok di belakang). Pun suami.

Ketika orang ketiga mengancam, itu artinya layanan kita ke suami harus ditingkatkan. Niatnya sih bukan semata-mata agar suami memberi “imbalan” dengan tidak bersikap neko-neko di luar, bukan, toh kita tidak sedang berdagang yang hanya mengenal untung rugi atau break event point. Hal tersebut kita lakukan semata-mata sebagai bentuk upaya kita untuk menjaga keluarga, menjaga amanah dari Allah. Dan yakin, ketika niatnya lurus seperti itu (karena Allah), maka Allah pun akan memberikan yang terbaik, menolong kita salah satunya dengan menjaga hati suami.


5. Berterus terang mengenai ketidaknyamanan kita ke suami

Kalau sang penggoda sudah mulai keterlaluan, kita bisa membicarakannya dengan baik/berterus terang ke suami. Tentu bicaranya dengan santai, bukan dengan napsu penuh amarah.

Misal, “Mas, aku kok kurang sreg ya sama Fulanah karena menurutku sikapnya ke Mas berlebihan banget. Aku sih percaya Mas lurus-lurus aja. Yang aku khawatirkan nanti kalau ada fitnah dari orang-orang yang hanya lihat dari luar. Aku enggak rela nama baik Mas tercemar. Mas lebih hati-hati lagi ya sama Fulanah. Jangan sampai memberikan peluang sedikit pun. Wanita beda sama laki-laki soalny. Laki-laki bersikap baik dikit kadang udah ditanggapi aneh-aneh sama wanita yang mudah baper. Ya itu, Mas. Mawas diri ya, Sayang,”

6. Jangan diberi peluang, nanti ngelunjak

Tidak semua orang yang ketika dibaikin akan tahu diri, tidak sedikit juga yang dikasih hati minta yang lain. That’s why jangan pernah memberi peluang. Baik, harus. Memberi peluang, BIG NO. Salah satu contoh memberi peluang adalah menceritakan kehidupan atau masalah pribadi ke wanita yang ada “rasa” dengan suami kita. Fungsinya buat apa juga? Enggak ada, kan.

7. Upgrade diri

Meng-upgrade diri sebenarnya tidak harus menunggu “rival” datang. Toh, belajar adalah kewajiban semua orang, seperti kata pepatah “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina,” dan ilmu yang dimaksud tentu bukan hanya ilmu di sekolah. Tapi biasanya seseorang akan lebih tersulut untuk belajar lebih baik lagi ketika ada ancaman dari luar. Nah, jadikan momen tersebut sebagai peluang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan potensi.

8. Bantu cari jodoh secara tidak langsung

Kalau memang cukup baik dan peduli, kita bisa membantu menyadarkannya bahwa di luar sana masih banyak pria single potensial yang bisa dilirik.

“Cantik, karier bagus, cerdas, & penuh semangat, siapa sih laki-laki single di luaran sana yang enggak tertarik. Kalau mau, sekarang juga kamu bisa kok ngedapetinnya tinggal nunjuk aja,” misalnya begini

9. Pasrah dan berdoa kepada Allah Sang Penggenggam Hati

Setelah semua usaha dilakukan, terakhir adalah menyerahkannya pada Allah. Dialah Sang Penggenggam Hati. Kepada siapa lagi kita memohon bantuan kalau bukan ke Allah. Biarlah Allah menyelesaikan setelah segala upaya kita kerahkan. Dia pasti akan memberikan yang terbaik.


Sahabat Ummi, konon membangun rumah tangga memang tidak semudah membangun rumah makan. Selalu saja ada tantangan yang datang silih berganti, salah satunya dari pihak ketiga. Na’udzubillah.

Kekuatan dan ketangguhan tidak datang tiba-tiba. Dia hadir bersama ujian. Warna-warni rasa itulah yang akan menempa kita menjadi wanita bermental baja. Dan jangan pernah lupa, Allah sebaik-baik pelindung dan tempat bersandar. Semoga DIA senantiasa memberikan berkah serta hidayah-Nya pada keluarga kita untuk tetap lurus di jalan-Nya. Aamiin.


Penulis:
Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo pemilik www.rumahmiyosi.com ini adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar.
Foto ilustrasi : google

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});