Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. 8 Kekhawatiran Orangtua ketika Anak Mereka Ingin Menikah Muda

   Rubrik : Pasutri

8 Kekhawatiran Orangtua ketika Anak Mereka Ingin Menikah Muda

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 3400 Kali

8 Kekhawatiran Orangtua ketika Anak Mereka Ingin Menikah Muda
8 Kekhawatiran Orangtua ketika Anak Mereka Ingin Menikah Muda

Sahabat Ummi, tantangan menikah muda bisa berasal dari sisi internal maupun eksternal. Dari sisi internal, tantangan menikah muda yang paling utama dan banyak dialami oleh para pelaku menikah muda adalah restu orang tua.

Sudah sewajarnya bila sebagai orang tua menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik. Pun sudah sepatutnya bila orang tua memiliki harapan besar kepada anaknya dan mengharapkan agar kehidupan sang anak jauh lebih baik daripada dirinya dulu. Biasanya, beberapa alasan yang membuat kedua orang tua ragu atau berpikir lama ketika sang anak meminta untuk menikah muda adalah karena faktor- faktor berikut ini:

1. Orang tua merasa anaknya belum dewasa

Banyak orang tua yang masih menganggap anaknya belum dewasa sekalipun usianya sudah semakin bertambah. Anggapan bahwa sang anak belum dewasa inilah yang kadang menjadi penghambat bagi banyak orang tua untuk merestui si anak menikah muda. Bagaimana mungkin bisa “mengendalikan” dan membimbing anak orang, sedangkan membimbing dan mengendalikan diri sendiri saja belum mampu, begitu kira-kira pemikiran orang tua.

2. Orang tua takut studi anaknya terganggu

Hal ini terjadi bila anak meminta untuk menikah saat masih kuliah. Orang tua sangat takut jika sang anak akan menelantarkan kuliahnya, padahal kedua orang tua sudah susah payah bekerja agar anaknya bisa kuliah di tempat yang layak. Banyaknya kasus pelaku nikah muda yang putus kuliah membuat orang tua takut bila sang anak tidak siap mental saat menjalani kedua peran “berat” tersebut. Sehingga, agar “aman”, banyak orang tua yang melarang anaknya untuk menikah saat kuliah.

3. Orang tua menginginkan anaknya berkarier terlebih dahulu

Pendapat ini untuk mereka yang ingin memutuskan menikah sesaat setelah lulus kuliah. Tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang tua yang menganggap tidak wajar seorang anak yang langsung menikah sesaat setelah lulus kuliah, terlebih bila sang anak memiliki prestasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ada semacam ketidakrelaan pada diri orang tua ketika sang anak mengajukan izin untuk menikah muda. Orang tua takut bila impian sang anak tidak tercapai bila ia terlalu cepat menikah.

4. Orang tua merasa takut kehilangan

Bisa dibilang ini adalah alasan yang sifatnya emosional, namun kenyataannya sering terjadi. Banyak orang tua yang merasa tidak ikhlas anaknya menikah terlalu dini hanya karena merasa takut kehilangan. Bagaimana pun juga, setelah menikah, kedua orang tua tidak mungkin berkuasa 100% kepada anak karena ia sudah memiliki keluarga baru. Kecemburuan sosial dan rasa takut kehilangan tersebutlah yang pada akhirnya membuat orang tua kurang merestui bila sang anak meminta izin untuk cepat-cepat menikah. 

5. Belum bisa membalas pengorbanan orang tua

Merawat sedari kecil, menjaga dengan sebaik- baiknya, mendidik dengan baik, dan melakukan apa saja agar sang anak bisa mengenyam pendidikan tinggi yang layak. Setelah mampu meraih pendidikan tinggi, tiba-tiba saja ia harus “menghilang” untuk mengabdikan diri untuk seseorang yang baru saja dikenalnya, yaitu pendamping hidupnya. Wajar bila kemudian timbul perasaan “berbeda” di hati orang tua. Orang tua ingin anaknya menjadi “sesuatu” terlebih dahulu baru kemudian menikah. Bukan karena ingin mendapatkan “bayaran”, namun semata- mata ingin melihat anaknya menjadi “seseorang” terlebih dahulu. Orang tua biasanya takut, bila sang anak terlalu dini “menyerahkan” dirinya pada orang yang baru saja dikenalnya, kehidupan si anak tidak akan bahagia, dan itu artinya perjuangan kedua orang tua akan sia-sia.

6. Orang tua takut kalau calon pendamping hidup si anak bukan dari golongan yang baik

“Tak kenal, maka tak sayang!” Tak sedikit kita jumpai cerita dari orang-orang yang sudah menikah bahwa sebelum menikah, mereka tidak terlalu disukai oleh calon mertua. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka pun pada akhirnya diterima. Jangan beranggapan negatif dan berkecil hati terlebih dahulu bila hal itu terjadi pada kita sekarang ini. Bayangkan bila kita menjadi orang tua yang memiliki anak. Sedari kecil diasuh dan dibesarkan dengan sebegitunya dan penuh dengan kehati-hatian. Setelah besar, si anak dengan “mudahnya” memberi kepercayaan pada seseorang yang belum dikenalnya lama. Bagaimana perasaan kita sebagai orang tua?

Hambatan menikah bisa datang dari sikap kehati-hatian orang tua dalam mempercayai kredibilitas calon pendamping hidup anaknya. Apakah benar calon pendamping hidup anaknya kelak akan membahagiakan anaknya. Apakah benar ia adalah seseorang yang tepat untuk anaknya. Bagaimana bila kemudian si anak disakiti. Bagimana bila ternyata dia menipu. Beragam pikiran negatif tentang calon pendamping anaknyalah yang bisa membuat restu orang tua tak kunjung diberikan, terlebih bila si anak meminta untuk menikah muda. Kecurigaan dan mungkin “kebencian” orang tua pada calon pendamping hidup anaknya itu pun akan bertambah. Semua itu adalah karena bentuk rasa sayang luar biasa pada anak, sehingga orang tua tak mau melihat anaknya disakiti kelak.

7. Anak adalah tulang punggung keluarga

Restu orang tua untuk menyetujui anaknya menikah muda tertahan, bisa jadi karena si anak adalah tulang punggung keluarga. Kedua orang tua khawatir bila anaknya terlalu cepat menikah, si anak tak bisa lagi membantu orang tua karena biar bagaimana pun juga ia harus berbagi dengan keluarga barunya.

8. Menyalahi adat dan tradisi

Masih banyak mungkin di antara kita yang melakukan sesuatu sedikit banyak terpengaruh pada tradisi dan adat setempat, termasuk menikah. Dan, restu kedua orang tua tak kunjung diberikan adalah karena menikah muda masih dianggap aneh di lingkungan tempat tinggal kita atau mungkin keluarga besar kita. Kedua orang tua merasa malu bila anaknya terlalu cepat menikah karena akan dianggap telah melakukan hal-hal yang “aneh”. 

Segala macam hambatan dan tantangan tersebut tidak untuk membuat langkah kita surut. Bila kita berpikiran positif, segala macam hambatan dan tantangan tersebut justru menjadi media untuk membuktikan bahwa kita tidak main-main dengan apa yang kita inginkan. Bila “hanya” karena faktor satu atau dua di atas kita menyerah terlalu cepat, itu artinya keinginan kita untuk menikah muda tidak didasari karena hati melainkan karena hal lain. Sebab, seseorang harusnya tidak akan cepat lelah bila ia yakin sebentar lagi akan segera sampai pada tujuannya. Seseorang seharusnya bangkit meskipun berkali-kali jatuh sebab ia yakin kemenangan sudah ada di depan mata. Sama halnya dengan menikah muda. Seberapa besar niat kita tergantung dari seberapa serius kita menakhlukan tantangan tersebut.

 

Referensi:

Prastari, Aprilina dan Miyosi Ariefiansyah. "Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya". 2013. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

 

Profil Penulis:

@miyosimiyo adalah seorang istri, ibu, penulis, & pemilik blog www.rumahmiyosi.com

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});