Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Finance
  4. /
  5. 7 Sikap Bijak Menyikapi Kondisi Keuangan yang Jatuh Bangun

   Rubrik : Finance

7 Sikap Bijak Menyikapi Kondisi Keuangan yang Jatuh Bangun

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 2964 Kali

7 Sikap Bijak Menyikapi Kondisi Keuangan yang Jatuh Bangun
7 Sikap Bijak Menyikapi Kondisi Keuangan yang Jatuh Bangun

Sahabat Ummi, yang namanya kondisi keuangan keluarga itu tidak bisa diprediksi secara pasti alias tepat 100 persen. Ada kalanya pemasukan biasa aja, tapi pengeluaran rutin sedikit, sehingga saldonya banyak (surplus). Ada kalanya pemasukan banyak, tapi pengeluaran rutinnya juga banyak bahkan lebih banyak daripada pemasukan, alhasil kondisi keuangan pun bisa defisit. Yang paling enak sih pemasukan banyak, pengeluaran sedikit ya. Hehehe.

Ada juga yang pemasukan dan pengeluarannya stabil, tapi tiba-tiba perusahaan tempat bekerja melakukan pengurangan karyawan dimana kita/pasangan juga menjadi salah satu korbannya. Nah. Kejadian-kejadian di luar rencana seperti ini bisa mempengaruhi keharmonisan keluarga jika tidak pandai-pandai menyikapi.

Lalu, kita harus bagaimana sebagai istri?

 

1. Saat pemasukan banyak dan pengeluaran masih sedikit, jangan abaikan investasi

Gunakan kondisi ini untuk berinvestasi yang sifatnya jangka panjang entah itu dalam bentuk tanah (yang nanti bisa dibangun rumah), logam mulia (kalau ini sifatnya lebih untuk menjaga nilai mata uang), rumah (bisa diwujudkan saat mendapat bonus tahunan misalnya), atau investasi jangka panjang lainnya.

 

2. Sisihkan dana cadangan

Dana cadangan tidak perlu banyak-banyak, sesuaikan saja dengan kondisi. Misal, sehari menyisihkan Rp10.000,00 dan tidak diambil-ambil. Maka dalam jangka waktu setahun, uang yang terkumpul sudah Ro3.650.000,00. Uang senilai tersebut jika dikonversi ke logam mulia bisa dapat sekitar 5 gram (dengan asumsi 1 gram 500ribu lebih) & itu pun masih ada sisa sekitar 1,1jutaan. Itu artinya, setidaknya kita bisa menabung dana cadangan senilai 5 gram emas per tahun. Lakukan secara rutin dan sabar. Lihat hasilnya nanti. 

 

3. Istri membantu suami? Mengapa tidak jika memang diperlukan

Istri membantu suami ini bentuknya juga beragam, tentu disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Menghemat pengeluaran dan enggak neko-neko  juga termasuk membantu suami. Setidaknya suami tidak akan pusing memikirkan gaya hidup istrinya yang menguras kantong. Atau punya usaha di rumah (menulis, bisnis online, mengajar privat, memasak, dll) juga bisa dilakukan.

Istri membantu suami bukan berarti mengecilkan peran suami, tentu bukan. Toh suami yang bertanggung jawab (dan bukan suami pemalas) pasti akan makin semangat bekerja ketika tahu istrinya seperti itu. 

 

4. Jangan lebay bergaya hidup alias biasa aja

Biasanya, orang yang sudah terbiasa dengan standar tinggi atau gaya hidup wah akan syok ketika diminta mengubah perilaku saat kondisi mengharuskannya begitu. Misal orang yang sudah terbiasa naik mobil merasa enggak nyaman ketika harus naik angkutan umum. That's why bergayahiduplah biasa saja walaupun serba ada. Naik kendaraan pribadi, yuk. Naik kendaraan umum juga enggak masalah. Pun untuk hal lainnya.

 

5. Jangan sembrono atau menggampangkan

Kita tidak selamanya muda, tidak pula selamanya sehat. Gunakan 5 waktu sebelum datang 5 waktu yang lain. Nasihat tsb juga bisa berlaku dalam hal mengatur keuangan keluarga. Ketika berada di titik enak, jangan mudah tergoda untuk menghabiskannya dengan hal-hal konsumtif. 

 

6. Jangan pernah membandingkan

"Kok dia enak sih,"

"Ih, Bu Anu udah punya tab baru,"

"Mobilnya Bu Itu udah ganti berkali-kali,"

Ehm ... bersikaplah dewasa. Kalau seperti itu apa bedanya dengan anak-anak yang nangis hanya karena ingin boneka barbie terbaru milik temannya? Bilapun emang pengin banget tapi kondisi keuangan keluarga belum mendukung, ya usaha, bukan menggerutu atau menyalahkan keadaan.

Yang jelas jangan sampai keinginan yang sifatny emosional tsb merugikan pondasi pokok keuangan keluarga.

Contoh, ingin HP tercanggih karena teman baru aja beli. Nah, jangan sampai keinginan yang sifatnya tersier tsb (karena HP yang lama sebenarnya masih sangat bagus) mengganggu stabilitas keuangan keluarga, misal mengambil pos tabungan masa depan hanya untuk memuaskan ego. Nanti ketika ada HP seri terbaru lagi masa iya mau gitu juga? Kalau emang pengin banget toh masih ada beragam cara, ikut kuis atau lomba yang berhadiah HP seperti itu misalnya. 

 

7. Bersyukur

Yang terakhir tentu tidak kalah pentingnya. Dalam sebuah ayat alquran dinyatakan yang intinya bahwa jika kita tidak bisa mensyukuri yang sedikit gimana bisa mensyukuri yang banyak. Itu sebabnya, bersyukur adalah "makanan pokok" yang tidak boleh dilewatkan. Yang penting kita sudah berusaha, seberapapun hasilnya wajib disyukuri. 

 

 

Sahabat Ummi, kita harus sadar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk kondisi ekonomi. Adalah sangat wajar jika mengalami fluktuasi kadang di atas kadang di tengah atau kadang harus mengencangkan ikat pinggang. Yang penting, pandai-pandainya kita menyikapi saja. Semoga kita semua bisa jadi istri yang bijak.

 

Referensi:

Ariefiansyah, Miyosi. "Cash Flow Manajemen untuk Awam & Pemula". 2012. Jakarta: Laskar Aksara. 

Ariefiansyah, Miyosi. "Hartamu Hartaku Hartaku Punya Siapa". 2012. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 

 

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar. Rumah mayanya ada di www.rumahmiyosi.com

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});