Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. 5 Kelemahan Nikah Muda yang Harus Diantisipasi

   Rubrik : Pasutri

5 Kelemahan Nikah Muda yang Harus Diantisipasi

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 3381 Kali

5 Kelemahan Nikah Muda yang Harus Diantisipasi
5 Kelemahan Nikah Muda yang Harus Diantisipasi

Sekali pun menikah muda memiliki beragam keuntungan yang cukup menggiurkan, namun kita tak boleh menutup mata terhadap kelemahannya yang memang ada. Kelemahan menikah muda ibarat virus yang akan menyerang “pelaku” bila ia tak memiliki benteng pertahanan yang kuat. Dengan mengetahui kelemahan atau kemungkinan terburuk yang akan terjadi bila menikah muda, diharapkan para pelaku menikah muda bisa mengambil tindakan preventif. 

Lalu, apa saja kelemahan menikah muda yang patut diwaspadai?

1.Rentan terhadap Perceraian dan Perselingkuhan

Dua hal yang sangat ditakuti dalam kehidupan rumah tangga adalah perceraian dan perselingkuhan. Sebenarnya, tak hanya mereka yang menikah di usia muda saja yang rentan terhadap kedua hal tersebut, siapa pun bisa “terserang” kedua virus tersebut bila tidak ada benteng pertahanan yang kuat. Namun, “kesempatan” untuk melakukan hal tersebut mungkin akan lebih banyak dilakukan oleh pasangan menikah muda yang ASAL menikah. Mengapa disebut asal? Ya, karena mereka hanya melibatkan pertimbangan emosi ketika menikah atau kesenangan sesaat.

Berikut ini adalah kondisi menikah muda yang sangat rentan terhadap kedua hal di atas:

-Bila menikah hanya karena TREN

“Kenapa sih status- statusnya di facebook setelah nikah kok lebay banget!”

“Emang wajib ya ngasih tahu orang-orang se-Indonesia, si suami cinta mati? Capek deh!”

“Males banget gue baca status temen gue yang baru nikah. Lebay amat booo. Bukannya iri ya, tapi muneg. Please deh, masalah rumah tangga gak usah diumbar ke seluruh lapisan masyarakat kaleee ... !”

“Yang bikin lucu itu ya, hari ini statusnya lebay mulu muji-muji. Eh, besoknya ngumpat-ngumpat. Makanya, kalau belom siap nikah mah mendingan gak usah nikah dulu ... huft ... !”

Tak bisa dipungkiri bila ada beberapa orang yang menikah muda hanya untuk masalah eksistensi. Tak heran bila sesaat setelah menikah hingga kurun waktu tertentu, yang bersangkutan merasa perlu untuk mempublikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan pasangan hidupnya. Tentu saja masalah publikasi adalah wajar sebenarnya, yang tidak wajar adalah bila mempublikasikan sesuatu secara berlebihan dan seolah tak memikirkan perasaan orang lain hingga muncul opini-opini seperti contoh di atas.

Tujuan menikah muda yang hanya sekadar untuk memuaskan sisi emosional saja biasanya banyak mengalami konflik. Ketika si pelaku melihat rumah tangga teman, saudara, atau sahabatnya begitu bahagiaa, ia merasa galau karena rumah tangganya tak seperti itu. Padahal, setiap rumah tangga memiliki “rel”nya masing-masing. Tak hanya itu, saat ada masalah, si pelaku biasanya akan mudah menyerah. Bagaimana tidak, motivasi menikah muda yang ia lakukan hanya karena orang lain dan bukan berdasarkan pertimbangan yang kuat dan matang.

Bila kita jeli dengan melihat lingkungan sekitar, coba hitung berapa banyak pasangan suami istri yang seolah tak peduli dengan kehidupan pernikahannya sendiri dan hanya memedulikan opini orang. Berapa banyak pasangan suami istri yang seolah tidak terlalu peduli ke mana pernikahannya akan dibawa karena sibuk dengan pencitraan ke orang lain.

Dan, yang namanya melakukan sesuatu hanya karena emosi biasanya akan mengalami kebosanan di saat tertentu. Kebosanan tersebut bisa jadi karena melihat seseorang yang lebih wah, berprospek, keren, atau semacamnya dibandingkan dengan pasangan hidupnya. Bisa jadi, kebosanan timbul karena pasangan hidup tak mampu memberikan sesuatu yang diinginkan. Emosi yang masih labil ditambah dengan komitmen yang kurang kuat (karena melakukan sesuatu hanya berdasarkan KATA orang lain) biasanya akan membuat biduk pernikahan yang dibangun belum lama menjadi rapuh.

Coba saja amati status teman-teman kita di jejaring sosial. Hari ini begitu menggebu-gebu menceritakan semua kelebihan pasangan tanpa ada cela. Besok, sibuk menulis status tentang segala macam penderitaan. Pun begitu seterusnya. Capek, bukan?  

-Bila menikah karena “kecelakaan”

Menikah muda karena “kecelakaan” (hamil di luar nikah) biasanya juga akan memiliki banyak kendala. Karena pernikahannya bersifat terpaksa untuk menutupi aib, maka secara mental, pasangan suami istri tersebut sesungguhnya belum siap. Tak heran bila banyak di antara mereka yang kemudian memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya atau tetap melanjutkan kehidupan pernikahan, tapi sama sekali tidak bahagia.

 

Baca juga: 5 Tahun Awal Pernikahan Merupakan Masa Terberat Ini Alasannya

 

2.Rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga

Emosi yang masih labil, ego yang masih tinggi, dan segala macam “nafsu” anak muda yang biasanya bertumpu pada AKU dan bukan KITA biasanya akan memicu hal-hal yang tak diinginkan, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga. Tak hanya fisik, namun juga psikis. Dan, tak hanya suami yang bisa melakukannya, namun juga istri. Kegagalan dalam belajar menjadi dewasa bisa membuat seseorang berperilaku sebaliknya. 

3.Rentan terhadap permusuhan tak berujung

Ketidakmampuan beradaptasi baik pada pasangan maupun keluarga pasangan, biasanya akan membuat permusuhan tak berujung, baik nampak maupun terselubung. Ego yang masih di atas langit, keinginan untuk dipahami dan bukan memahami, serta tidak adanya toleransi bisa membuat hati sakit dan berujung pada dendam. Coba lihat sekitar kita, ada cukup banyak kasus seorang mertua tidak rukun dengan menantunya, seorang ipar tak rukun dengan istri/suami saudaranya, dan kasus serupa “hanya” karena ketidakmampuan pelaku menikah muda untuk berjuang mengalahkan egonya.

Padahal, sudah harus disadari bagi semua pasangan muda, mungkin kita salah satunya, bahwa kita tak hanya menikah dengan kelebihan pasangan, namun juga kekurangannya. Kita juga tak hanya menikah dengan dia saja, namun “menikah” dengan semua keluarga besarnya. 

4.Stres dan depresi

Suka atau tidak, kondisi sebelum dan sesudah menikah sudah pasti berbeda. Bila sebelumnya, kita hanya memikirkan diri sendiri, maka setelah menikah, semua keputusan sekecil apapun itu pasti berdampak pada keluarga baru kita. Kondisi tersebut membuat pasangan suami istri tak bisa berbuat semaunya sendiri. Dan, hal tersebut tentu sangat kontra dengan sifat kebanyakan kaum muda yang masih suka semau gue dan tak suka diatur. Kekurangpahaman status dan kewajiban baru tersebut membuat pelaku menikah muda mudah stres bahkan depresi. Misalnya, seorang istri merasa dikekang habis-habisan ketika suaminya melarang untuk pergi di atas jam 10 malam, padahal ketika ia masih muda, si istri terbiasa pulang pagi.

 

Baca juga: Jangan Menikah Karena Alasan Ini

 

5.“Karier” tidak bisa berkembang

Menikah muda tak berarti harus mengubur mimpi untuk menjadi lebih baik dan menggapai cita-cita. Meskipun memang, tak bisa dipungkiri, dalam praktiknya, tugas seorang wanita yang sudah menikah dan keukeuh memperjuangkan cita-citanya akan lebih berat daripada yang tidak. Biasanya, seorang wanita yang sudah menikah dan berada di area comfort zone akan “malas” untuk memperjuangkan impiannya dan memilih untuk “menyerah”. Dari situlah pada akhirnya timbul anggapan bahwa menikah bisa menghambat impian dan cita-cita. 

Padahal, dengan adanya komitmen yang kuat dari diri sendiri dan juga kesepakatan bersama pasangan, seorang wanita yang sudah menikah tetap bisa memperjuangkan mimpi-mimpinya tanpa harus menelantarkan keluarganya. Namun, tanpa ada komitmen dan motivasi yang kuat, menikah, terlebih di usia muda, memang bisa jadi “penghambat” kemajuan. Tak bisa dipungkiri bahwa banyak pelaku menikah muda yang pada akhirnya harus “menyerah” dan tak melanjutkan kuliah yang tinggal beberapa semester. Tak bisa menutup mata bahwa banyak pelaku menikah muda yang studinya terbengkalai karena tak bisa membagi waktu antara keluarga dengan kegiatan belajar. Tanpa adanya motivasi yang kuat, menikah muda memang bisa menjadi “bumerang” bagi pelakunya.

Bagaimana? Ternyata, menikah muda tidak seindah cerita Cinderella, ya. Selain memikirkan yang indah-indah yang notabene sangat manusiawi, para calon pelaku nikah muda juga wajib memikirkan kemungkinan tantangan yang nanti akan dihadapi agar tidak kaget.

Jadi, sudah siapkan menikah muda SEKARANG JUGA? 😊

 

 

Referensi:

Prastari, Aprilina dan Miyosi Ariefiansyah. "Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya". 2013. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

 

Profil Penulis: 

Miyosi adalah seorang istri, ibu, dan penulis. Silakan mengunjungi www.rumahmiyosi(dot)com untuk bersilaturahmi.

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});