Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Motivasi
  4. /
  5. Jangan Menelan Mentah-Mentah, Lembut itu TIDAK SAMA dengan Lemah

   Rubrik : Motivasi

Jangan Menelan Mentah-Mentah, Lembut itu TIDAK SAMA dengan Lemah

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 1994 Kali

 Jangan Menelan Mentah-Mentah, Lembut itu TIDAK SAMA dengan Lemah
Lembut itu TIDAK SAMA dengan Lemah

Inilah fenomena yang ada saat ini. Sebagian besar orang sering menelan mentah-mentah terhadap apa saja yang mereka terima. Tanpa dicerna, diresapi, dan dihayati, justifikasi berbuah fitnah pun bermunculan. Merasa diri paling benar. Bertikai. Dan, berakhir gak jelas. Berdebat bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk menunjukkan bahwa diri sendirilah yang benar. Miris.

 

Terus terang, saya “gatal” untuk tidak menuliskan semua OPINI yang ada dalam pikiran saya tentang salah satu pernyataan ustadz yang kemudian menjadi kontroversi di dunia maya. Tak perlu saya sebutkan siapa orangnya. Dan lagi, saya juga tidak kenal beliau. :)

 

Ustadz tersebut menyatakan tentang wanita yang sepatutnya lembut. Intinya sih begitu. Gak mungkin juga saya copas semuanya. :)

 

Pernyataan itu pun menuai beragam kontroversi, mulai dari kritikan sopan sampai kritikan yang gak jelas arah tujuannya. :D

 

Saya sendiri heran, kenapa sih kata-kata “lembut” berkonotasi negatif dan selalu disandingkan dengan sesuatu yang lemah tak berdaya dan gak jelas alias absurd. Padahal, saya yakin maksudnya tak seperti itu.

 

Iya, wanita memang harus LEMBUT karena kelembutan itu adalah letak kekuatannya. Gak percaya?

 

Coba saja kita hidangkan makanan sederhana pada suami. Pilihan pertama, kita berkata-kata manis. Pilihan kedua, kita berkata-kata kasar. Hidangannya sama-sama sederhana, tapi manakah yang lebih nyes di hati.

 

Kasus lain lagi. Ada seorang suami yang mungkin karena terlalu sayang pada istrinya, si suami tersebut tak mengizinkan istrinya bekerja. Biarlah suaminya yang membanting tulang dan istri kebagian yang enak-enaknya saja. Namun, si istri ternyata bukanlah wanita manja yang terbiasa ongkang-ongkang. Sejak kecil, ia dididik untuk bekerja keras. Lalu, bagaimana cara dia membujuk suaminya? Pilihan pertama, dengan rumus matematika fisika kimia plus mendebat sang suami bahwa ia adalah lulusan cumlaude akselerasi mahasiswa berprestasi cerdas pintar dan disertai dengan segala macam istilah sok ribet lainnya. Sedangkan pilihan kedua, ia menjelaskan pada suaminya dengan lembut dan menyejukkan bahwa sesungguhnya ia ingin menghasilkan sesuatu bukan karena ia tak bersyukur, melainkan karena ia ingin berkontribusi. Ia ingin mengaplikasikan ilmu yang ia pelajari selama ini. Pun ia memberikan pilihan pada suaminya mengenai bidang-bidang apa saja yang kira-kira boleh ia tekuni. Ia mengatakannya dengan bahasa yang sopan sambil memijat bahu suaminya dengan penuh kasih sayang, misalnya.

 

Yang mana yang lebih berhasil? :D

 

Lembut, tak bermakna lemah. Entah, kenapa orang-orang alergi dengan kata lembut? Apa mereka tak mau mencerna lebih dalam, kurang belajar bahasa konotasi, atau memang tak mau membuka hati? Entahlah.

 

Yang jelas, menurut saya pribadi, lembut itu juga mampu menempatkan sesuatu pada porsinya.

 

Saat suami sibuk di kantor, tak mungkin si istri setiap menit WA hanya untuk minta diperhatikan. Jelas, enggak lucu banget. Emang si istri gak punya kesibukan lain? Bekerja, berbisnis, mendidik anak, menambah hafalan, belajar, dan kegiatan lain yang lebih berguna misalnya.

 

Saat wanita masih single dan ada yang mengajak pacaran, si wanita jelas dengan tegas menolak mentah-mentah. Nah, apakah itu artinya lembut itu lemah?

 

Apakah wanita-wanita yang setiap hari marah-marah di facebook, twitter, atau socmed lainnya dan mengumbar aib keluarga, itu bisa dibilang wanita kuat dan perkasa? Peribahasa yang aneh bila sampai wanita seperti itu dianggap kuat. Emang dunia sudah kebolak-balik. :D

 

Apakah yang suka mengeluh suami lembur, sendirian di rumah, gak jelas mau ke mana, dan keluhan gak jelas lainnya itu cerminan wanita lembut? Saya rasa tidak.

 

Apakah wanita yang lebih memilih curhat dengan LAKI-LAKI asing padahal wanita lain masih banyak, itu bisa dikatakan lembut? Ehm… saya rasa sih tidak, itu mah wanita yang haus kasih sayang.

 

Apakah wanita yang bekerja membanting tulang itu tidak lembut? Lihat-lihat dulu sikonnya dong. Kalau ia masih single, daripada bergosip tidak jelas, mendingan kan belajar dan bekerja. Apalagi bila ia punya tanggungan keluarga. Emang mau ngapain? Pun bila ia sudah menikah. Saat ada suami, ia bak bidadari. Saat suami tidak ada, ia harus mandiri (tidak sedikit sedikit telpon suami, bisa menghandle pekerjaan rumah sendiri, kuat terhadap godaan laki-laki lain, dan hal-hal lainnya)

 

Yang jelas, dalam memahami sesuatu, kita harus membersihkan hati dan gak boleh menelan mentah-mentah.

 

Yang nelan mentah-mentah biasanya anak kecil yang belum bisa mengunyah dengan baik karena masih belajar makan. :)

 

Mari semangat memperbaiki diri dan saling mengingatkan dalam kebaikan!!

 

Penulis:

 

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo pemilik www(dot)rumahmiyosi(dot)com adalah istri, ibu, penulis, dan pembelajar.

 

 

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});