Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Agar Tidak Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Labil

   Rubrik : Pasutri

Agar Tidak Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Labil

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 15393 Kali

 Agar Tidak Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Labil
Agar Tidak Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Labil

Sahabat Ummi, dikatakan bahwa ibu adalah jantung rumah tangga. Ketika jantung tersebut dalam kondisi sehat, maka kondisi sekitar pun akan sehat. Pun sebaliknya. Sayangnya, rutinitas yang monoton dan beragam alasan lain kadang membuat ibu rumah tangga berubah menjadi sosok yang menakutkan, berubah menjadi monster misalnya. Padahal, menyesal kemudian setelah mengamuk dan menyakiti sekitar tidak akan pernah berguna karena waktu tidak bisa kembali.

Kadang lembut, kadang kasar. Kadang baik, kadang marah-marah. Wew. Tentu kita tidak mau menjadi ibu rumah tangga yang labil seperti itu ya, Sahabat Ummi.

Nah, bagaimana agar kita sebagai ibu rumah tangga bisa tetap “waras”. Bila pun suntuk, sadarnya cepat tanpa perlu harus ada korban lebih dulu.

Tips berikut ini mungkin bisa dilakukan.

Sebelum Menikah

Hal yang umum terjadi pada para gadis adalah membayangkan hanya yang indah-indah saja saat sebelum menikah. Oh nanti punya suami yang baik. Oh nanti punya anak yang lucu. Nanti dilindungi. Nanti bahagia. Boleh-boleh saja berharap yang baik-baik, toh kata-kata adalah doa. Tapi, jangan terperdaya. Ini kan dunia. Tidak mungkin jika seterusnya enak atau sesuai dengan kemauan kita. Jika menikah hanya berharap ingin lepas dari penderitaan atau bahagia selamanya, ya siap-siaplah kecewa.

Perbaiki dulu niat menikah, jangan modus. Menikahlah karena Allah karena memang dengan menikah kita bisa menjadi lebih dekat dengan Allah. Jika seperti itu tujuannya, InsyaaAllah tidak akan ada lagi pikiran menjadi manusia paling menderita sedunia nantinya.

Melayani suami, mengajari anak, mengingatkan keluarga, bercengkerama, memasak, menyiapkan keperluan, mengatur keuangan, dan segala jenis printilan pekerjaan ibu rumah tangga semuanya akan dianggap sebagai ibadah, bukan beban.

Kalau kita sudah siap, ya silakan menikah. Tapi jika menikah hanya untuk tujuan agar cepat laku atau karena teman-teman sepermainan sudah menikah atau untuk modus lain, sebaiknya banyak belajar saja dulu daripada nanti ketika ada masalah bersikap tidak dewasa.

Setelah Menikah

Setelah menikah pun bukan berarti setiap wanita sudah berubah menjadi ahli rumah tangga. Tentu saja tidak. That’s why, ilmu perumahtanggaan harus selalu di-upgrade. Apalagi, tantangan demi tantangan akan selalu muncul. Tidak mungkin rumah tangga lurus-lurus saja seperti jalan tol. Misal, tantangan tidak langsung diberi amanah anak sementara teman-teman yang lain yang baru saja menikah sudah diamanahi anak, tantangan tidak langsung mapan, tantangan berbeda karakter dengan keluarga pasangan, atau yang lain. Jika semua itu tidak disikapi dengan baik, yang ada menikah hanya akan jadi sumber penderitaan.

Tidak jarang, seorang ibu sebenarnya marahnya ke siapa, tapi yang dijadikan sasaran empuk kemarahan dan luapan emosi adalah anaknya. Barulah setelah si anak terluka, si ibu menyesal. Apakah ini adil? Padahal penyesalan tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu.

Lalu, apa yang bisa kita usahakan agar tidak menjadi ibu rumah tangga yang labil?

  1. Bergaul dengan teman-teman yang positif

Teman yang hanya bisa mengompori hanya akan mengotori hati. Itu sebabnya, sangat penting untuk mencari teman akrab yang positif yang bisa semakin mendekatkan kita pada Allah.

“Ih, kamu ya mau-maunya jadi ibu rumah tangga. Kita dong punya penghasilan sendiri,” hanya karena statement yang tidak sampai semenit itu galaunya bisa sampai berminggu-minggu. Siapa yang rugi?

“Eh tahu nggak, suami tetanggaku istrinya belum hamil-hamil terus doi selingkuh gitu,”

“Hati-hati lhoh kalau suami sering dinas, kali aja di sana punya cem-ceman,”

“Suamiku sih enggak pernah ngelarang-ngelarang aku ya, bedalah,”

Sebaiknya, kita tidak terlalu akrab dengan orang-orang yang hobi menghasut seperti di atas kecuali mental kita sudah sangat kuat sekuat baja.

  1. Meng-upgrade ilmu

Karena masalah dalam rumah tangga sudah pasti ada dan meningkat, maka tidaklah mungkin jika kita menghadapinya hanya dengan ilmu yang itu-itu saja. Kita harus sadar akan kebutuhan untuk meng-upgrade ilmu. Dan di zaman modern seperti sekarang ini, ilmu yang positif bisa kita dapatkan dari mana saja. Gunakan teknologi dengan bijak.

  1. Memiliki prinsip yang kuat

Ocehan orang tidak bertanggung jawab tidak akan membekas ketika kita memiliki prinsip yang kuat. Kalau sebaliknya, ya kita akan mudah terombang-ambing dan dipermainkan orang lain. Sedari awal seharusnya kita sudah tahu bahwa menjadi ibu rumah tangga itu ibarat pondasi: harus kuat meski tidak terlihat. Sekalinya kita lemah dalam berprinsip, maka bangunan di atasnya akan roboh.

“Jadi kamu di rumah aja?”

“Iya, kerja di rumah, alhamdulillah sekarang udah ada internet. Ini yang diridhoi suamiku,”

“Lhoh, jadi belum hamil juga?”

“Iya, doain, ya,”

Nah, dijawab begitu juga sudah cukup kan. Buat apa kita repot-repot menjelaskan visi misi keluarga kita pada setiap orang. Buang-buang waktu.

  1. Komunikasikan segala sesuatu dengan suami, bukan curhat ke orang ketiga

Komunikasi dengan suami menjadi hal mutlak. Daripada curhat ke orang ketiga yang enggak tahu persis masalahnya apa, akan lebih baik jika curhat dengan suami sendiri. Tentu waktunya kita sesuaikan dengan kondisi. Jika suami masih sibuk, kita bisa menulis dulu segala macam keluh kesah kita di kertas, bukan di media sosial.

  1. Berserah diri pada Allah

Hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang. Salah satu bentuk berserah diri sama Allah itu adalah dengan banyak mengingat kenikmatan yang sudah Allah beri.

Kesal sama suami padahal suami enggak melakukan apa-apa atau kalaupun membuat salah ya bukan kesalahan fatal. Hati-hati bisikan syetan. Lihatlah teman-teman seusia kita yang masih belum bersuami.

Kesal sama anak yang rewel mulu? Lihatlah teman-teman kita yang sudah lama menikah tapi belum diberi amanah untuk memiliki anak.

Kesal dengan mertua? Itu sudah konsekuensi karena kita menikah dengan anaknya. Kalau enggak mau kesal ya jangan menikah dengan anaknya. Sabarin aja, enggak terlalu diambil pusing.

Sahabat Ummi, salah satu kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang di dunia ini adalah ketika memiliki keluarga yang bahagia. Dan kebahagiaan itu tidak semata-mata diukur hanya dari yang kasat mata toh ada banyak yang secara kasat mata begitu wah tapi ternyata masih juga mengeluh dan tidak bersyukur. Semua yang kasat mata hanya sarana saja karena kebahagiaan sejati itu adanya di dalam hati. Pun sebagai ibu rumah tangga. Berbahagialah. Sadari betapa pentingnya peran kita. Hargai diri sendiri.

 

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo penghuni www(dot)rumahmiyosi(dot)com adalah istri, ibu, penulis, dan pembelajar.

 

 

 

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});